Thursday, 10 September 2020

Manusia sempurna tanpa cela

aku berusaha meyakinkan diri aku untuk tidak apa untuk tidak selalu sempurna. Sebagian diri aku menghardik dan menunjuk tanpa henti seolah hidupku tidak boleh ada cacat, cela dan kesalahan. Tapi bukankah aku juga manusia biasa? bahkan untuk hal ku sukai aku melakukan kesalahan. Tapi kenapa aku takut? apa yang aku takutkan? Dunia mengkritikku, menyalahkan tanpa henti? atau memang aku yang terlalu kejam kepada diri sendiri?

Rasanya lelah dengan diri yang menyukai kesempurnaan, seolah kesalahan merupakan kegagalan yang fatal

Tapi aku inget perkataan dr jiemi, It's okay to be not okay. Kamu harus mengakui bahwa kamu bukan manusia yang sempurna. Kamu sering gagal sering jatuh. bukankah hal yang wajar? bukankah kegagalan di dunia ini sesuatu hal yang wajar? Ketika semua hal di luar kendali kamu, bukankah itu wajar?

Tapi kenapa aku masih sering memojokkan diri, menyalahkan diri sendiri ketika berbuat kesalahan meski itu hal kecil. Aku menghardik diriku yang berbuat salah, sambil pikiranku menari ria membayangkan penghakiman orang lain yang maha dahsyat kepada diriku.

*aku sembari praktek butterfly hug, memeluk erat diri sambil berkata "gapapa kalau kamu salah. orang mungkin menghardik, memojokkan dan menyalahkan sambil mencemooh kebodohanku. tapi aku berusaha untuk disini untuk diriku sendiri. karena aku berusaha mencintai diriku. meskipun aku bukan manusia sempurna, aku hanya menusia penuh cela dan kesalahan"


Monday, 31 August 2020

Searching of Happiness

Sekitar 2 tahun lalu, gue mencari definisi kebahagiaan. Tiap kali di kereta sepulang kerja atau pulang main selalu merenung. Bahkan untuk sekedar ke supermarket dan ngeliat anak kecil main bola sambil ketawa, gue bertanya "apa yang membuat mereka bahagia ya? gimana caranya ya?". suatu malem sekitar jam 11 malem di stasiun pasar minggu, ada beberapa orang masih kerja. Entah karena emang target untuk membuat underpass atau emang jam kerjanya menggunakan shift. sambil nunggu kereta gue memandangi mereka lama banget, gue berpikir "kenapa mereka mau kerja jam segini ya? gak capek? ga bahagia kan?

Tapi jalan mencari definisi kebahagiaan itu gak pernah gue temui, sampai suatu ketika di awal tahun 2020 konser Super junior SS8 di Ice BSD datang. Tanpa persiapan mau nabung dan emang gak ada niatan nonton konser, tiba2 temen kantor ngasih info ada tiket punya temennya sayang banget ga kepake dia mau jual. Setelah pikir panjang karena ga pernah nonton konser juga dan setelah dikasih tau temen cowo di kantor di umur gue sebelum menikah sebaiknya pake uang hasil kerja untuk membahagiakan diri sendiri. Setelah merenung akhirnya gue beli itu tiket dan emang jauh sih dari panggung. Gak punya temen buat nonton tapi dapet temen baru. baru pertama kali ketemu udah kayak kenal lama. Seru banget dan klik banget. Sampai akhirnya sepulang konser capek banget tapi bahagia. Lalu gue mengklaim bahwa hidup gue bahagia.

Tapi ternyata bahagia gue karena nonton konser itu fana. Kayak cuma bertahan di hari itu doang dan cuma 3 harian lah. Tapi bahagia karena ketemu idola tidak bisa membuat hari gue yang buruk atau peristiwa yang menyedihkan itu berubah. Gue tetap merasa down, bete, kesel, marah sedih, kecewa dan emosi lainnya. Gue bingung dan kehilangan arah. 

jadi apa itu bahagia?

Setelah hidup 25 tahun dan di umur 20 tahun gue mencari definisi bahagia gak pernah ketemu dan selalu salah. Ternyata definisi dan tujuan hidup gue yang salah. Gue mencari bahagia untuk hidup. Mana pernah ketemu kan? Banyak baca buku tentang psikologi juga gak kunjung membuat gue berubah memaknai bahagia. Sampai akhirnya salah satu dokter bilang "bahagia yang itu terjadi kemarin kan? bukan hari ini? kenapa kamu hidup untuk hari kemarin? kamu hidup untuk hari ini"

Drama Its okay To Not Be Okay juga ngasih gue perspektif mengenai definisi bahagia. bahwa bahagia itu berarti gue harus bisa hidup berdampingan dengan rasa sakit sedih kecewa marah atau emosi lainnya. bahagia yang sebenarnya berarti bukan menghindari rasa sakit tapi melaluinya. 

Gue sebagai manusia yang masih mencari makna dan tujuan hidup, gue masih belajar untuk menerima bahwa terkadang It's okay To Not Be Okay. Jadi akui, rasakan, temani diri kita, karena ketika kita bisa lewati itu kita akan bahagia dengan apa adanya diri kita.

Friday, 10 July 2020

Berteman Dengan Kegelapan

Entah kenapa tapi tadi malem kebangun dengan mimpi buruk. Mimpi buruknya bikin aku nangis seketika, bukan nangis kejer tapi air mata yang keluar disertai rasa degdegan di hati. Pokoknya perasaan yang gak enak banget. Lalu ketika menenangkan diri dengan kalimat "hey itu semua hanya mimpi" akhirnya aku tenang dan kembali tertidur.

Tapi setelah pagi hari, aku bangun dan bingung "kenapa ya ko tubuh kayak lelah abis nangis", sambil kerja terus isi pikiran tuh kayak benang kusut yang belum terurai sempurna. Lalu inget, ternyata tadi malem mimpi buruk. Tapi mimpi apa? ingatan akan mimpinya samar banget tapi setelah aku paksa otakku buat mengingat ternyata aku mimpi ditinggalkan dengan sebuah hubungan. Rasa takut yang menghantui diriku setiap hari ternyata mampir ke dalam mimpi. Aku mimpi punya sahabat dekat dan aku bahagia menjalani hariku, tapi ternyata sahabatku itu tertabrak mobil dan meninggal dengan tragis. Mimpinya kejam, bahkan sore tadi aku mengutuk otakku yang menjadikan kekhawatiranku menjadi sebuah mimpi buruk yang menjadikan sesak.

Tapi aku sadar, mimpi buruk dan ingatan yang tadi menghilang yang juga saat ini disertai rasa hampa ternyata sebuah alarm. Aku kelelahan secara fisik dan psikis. Akhir-akhir ini pekerjaanku memaksaku untuk 10x lebih teliti dan menuntut untuk sama sekali gak melakukan kesalahan. sedangkan pikiranku berkelana dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Secara fisik aku kelelahan, bahkan kamis kemarin aku demam, entah karena efek hormon sehingga emosiku kembali tidak stabil. Atau emang ambang lelahku udah mencapai maksimal.

pekerjaan yang banyak ditambah pikiran yang tak pernah berhenti bikin khawatir ini membuat aku hari ini merasa hampa dan kosong. Aku merasa ga semangat, lelah fisik dan gatau apa yang aku mau dan harus aku lakukan. Tapi aku tetap kerja untuk memenuhi rasa tanggung jawabku. Aku seperti zombie. Merasa hampa dan kosong tapi tetap berjalan dan beraktivitas seperti biasa.

Rasanya aneh. Aku merasa kegelapan mengambil alih lagi. Padahal setelah aku tahu bahwa depresi itu memiliki pola, harusnya bulan ini bukan bulan aku merasakan depresi. Tapi dia hadir lagi, meskipun tanpa menghakimi. Aku cuma takut dan khawatir. Tapi aku sadar bahwa ini alarm untuk diriku. Ternyata akhir akhir ini aku hanya kelelahan, kerja tanpa jeda, kesal dengan semua hal tapi hanya kubiarkan hadir dalam pikiranku. Saat ini emang lagi bulan padatnya kerjaan, karena harus bikin report semester dan monthly belum lagi kerjaan printilan yang banyak dan gak pernah habis. Rasanya semua energiku dikuras habis. Plus aku selalu di rumah waktu yang ku habiskan hampir 99.9% di dalam kamar. jelas aku merasa bosan dan hampa. Mungkin aku butuh udara bebas. Dan aku kurang olahraga tentunya, seperti kata dr Jiemi. Olahraga itu harus aku lakukan. Aku juga udah lama ga melakukan mood tracker, meluangkan waktu 5 menit untuk bernapas alias fokus dengan napas alias meditasi.

Bener kata dr Jiemi, ternyata gada cara lain selain berteman dengan kegelapan, dia bisa hadir kembali. aku gabisa langsung sembuh dengan cepet ketika dr jiemi aja butuh bertahun-tahun menerapkan midnfullness.

Alarm ini sebagai tanda bahwa aku lupa menyayangi diriku, aku fokus dengan memenuhi kewajiban, merasakan ketakutan seorang diri. Aku bahwa mencari lagi arti bahagia itu apa. Aku melupakan sesi konsul dengan dr jiemi Ardian. Atau ini waktunya aku kembali psikoterapi?

Apapun itu aku harus bisa berteman dengan kegelapan.
semangat, diriku.


Bogor
10 July 2020

Wednesday, 27 November 2019

On The Way To Broken Heart 4

Cinta itu hanya perasaan yang bisa datang dan pergi
Mencintai seseorang dan berharap dia balik mencintai hanya obsesi
Sedangkan cinta sendiri itu suci
Dan aku punya kendali atas pikiran dan hatiku
Luka itu hal yang pasti dalam tahap mencintai
Tapi kamu mampu sembuh
Percaya itu
Mari bahagia!

Sunday, 17 November 2019

On The Way To Broken Heart 2

Mencintaimu adalah kegiatanku saat ini
Merindukanmu adalah hobiku saat ini
Tapi mengecap rindu sambil melimpahi rasa cinta padamu telah mengambil alih pikiran dan batinku
Aku terluka karena merindukanmu
Aku terluka karena rasa cinta yang menggebu
Aku terluka karena dirimu
Tapi sayang kamu tak tahu itu
Benar kata orang, cinta itu memang buta
Karena aku seperti ada di labirin
Tersesat dalam kewarasanku untuk mencintaimu
Sambil berdoa semoga dirimu menjadi kisah manis dalam hidupku
Datang dan mendekatlah padaku
Biar kubisikan mantra hebat yang takkan kubagikan kepada siapapun
"Hai kamu yang disana.. aku mencintaimu dengan rasa yang tulus. Aku ingin mengarungi kehidupanku selamanya denganmu. Memegang tanganmu hingga rambutku memutih dan kerutan di kulitku. Aku ingin selamanya bersandar pada pundakmu yang kokoh. Aku ingin selamanya berlari bercanda bersamamu di pantai bersama si kecil penyemangat kita nanti. Aku ingin berdiskusi banyak hal tanpa batas waktu. Aku ingin menikmati semangkuk mie seperti yang kita lakukan di kala hujan. Aku ingin mendengarmu berkeluh kesah sambil memelukmu membuatmu nyaman dalam dekapanku. Karena aku mencintaimu"

16 November

Monday, 11 November 2019

On The Way To Broken Heart 1

Aku bergelut dengan logikaku
Tapi rasaku terlalu kuat untukmu
Ia mengambil alih alam bawah sadarku
Meski terlalu pahit tetap kurasa getir menyerang sanubari
Aku terluka rasa dan asaku padamu
Hancur berkeping
Bahkan meski ku harus bernapas sambil merindukanmu
.
.
11 November 2019

Monday, 4 November 2019

expectation kill

I think I am afraid to falling in love or marriage because of I hate if I can lose the one I love.
Someday I love a man because his brain or because he is kind to me. But always
Expectation always kills me slowly and deeply
Now I hate the way when I am falling in love
Bleeding

Monday, 15 July 2019

Dear You : Kamu Dan Tatapanmu

Kamu adalah nama yang terukir dalam relung hati
Seseorang yang tanpa sengaja hadir dalam benakku hingga ku pikirkan dan khawatirkan setiap hari
Aku menyadari bahwa ternyata kamu adalah seseorang yang kucintai teramat dalam

Mencintaimu membuatku berenergi setiap hari
Hari demi hari ku lewati dengan mencintaimu dalam doaku
Aku tak pernah ingin melukai egoku dengan mengungkapkan perasaanku
Tapi namamu selalu kubisikan pada Tuhan untuk selalu dijaga siang dan malam

Aku mencintaimu dengan diiringi rasa takut kehilanganmu
Mungkin saat ini kita tidak berada dalam satu kutub yang memiliki kekuatan yang sama
Tak lantas membuat kita saling menarik dan menggenggam

Tapi justru saling bertolak belakang yang seringkali membuatku terluka
Rasa memiliki dan seolah tahu segala tentangmu memang membuatku terluka
Seharusnya aku tak pernah menaruh hati untukmu
Tapi aku bahkan tak bisa mengendalikan perasaan ini

Namun saat ini, perasaanku padamu semakin tak terungkapkan
Hingga tak bisa ku definisikan

Mungkin aku berada di titik lelah untuk menyebut namamu dalam doaku
Terlalu lelah untuk memikirkanmu siang dan malam
Terlalu lelah menghadapi penolakan meski terlihat dalam gesturmu
Aku terluka oleh diriku yang mencintaimu teramat dalam

Ku kira aku sudah melupakanmu karna terlalu terluka
Ku kira aku sudah lupa
Karena kamu terlalu berharga untuk ditinggalkan hanya karena sebuah perasaan cintaku yang tak berarti

Tapi tatapan matamu saat kita berpapasan membuat hatiku tidak karuan
Jangankan membenci, melupakan saja menjadi hal tersulit yang bisa kulakukan

Seandainya tatapan mata bisa menggambarkan isi hati
Seandainya tatapan mata bisa mudah didefinisikan
Seandainya tatapan mata itu punya arti
Tapi aku akan berupaya untuk menghilangkan semua ekspektasi dan hipotesis tentang tatapan itu

Karna hanya kamu dan Tuhan saja yang tahu isi hatimu
Meski harus kusadari, kamu terlalu indah
Kamu dan tatapanmu terlalu indah untuk ku nikmati dalam ingatan
Kamu dan tatapanmu memang memenuhi isi kepalaku
Tapi lebih baik seperti itu
Karna tatapanmu menggambarkan dirimu yang hangat meski penuh rasa canggung

Berhenti menjadi dingin tak berperasaan
Karna kamu sosok yang hangat
Berhenti menjauh dan menjadi canggung
Karena kamu terlalu baik untuk diberi label pria jahat

15 july

Thursday, 11 July 2019

It's Okay To Be Not Okay

It really helped when you see the world in different way. That your problem is actually not as big as it seems. Just because you're trapped in your own mind. And there so many people trying to crush you down with any ways that they can like your friends talking about you behind you probably your own close friends. But i guess that's okay because we're all humans. You are stronger than you think  and you can get through..so many problems because you are great. Just take a breath. Because there's a rainbow after the rain right?

Monday, 1 July 2019

Luka

Rasanya sesak. Amarah yang terpendam. Aku kira aku mulai bahagia dan melupakan sebuah luka. Tapi ternyata ku salah. Luka itu selalu disana. Masalah itu ga pernah hilang.
Aku yang berusaha menutupi seolah luka itu tak pernah ada
Lucunya dia kembali mengoyak batinku
Membuatku hampir kembali menyerah
Meruntuhkan dinding yg ku bangun
Ku kira dinding itu kuat. Tapi nyatanya rapuh
Layaknya diriku
Aku menangis
Terluka karna amarah yang tak bisa kuredam
Di saat seperti ini rasanya ku butuh seseorang
Aku butuh pelukan atau sekedar sosok yang seperti buku diary, setia mendengarkanku
Aku ingin menangis. Tapi harga diriku terlalu tinggi

Sunday, 26 May 2019

Dear You : Luka

Kamu pergi seolah melarikan diri
Menjauh seperti angin yang sengaja melewatiku Tanpa peduli aku yang seringkali menghardik diri sambil menduga alasan perubahanmu

Kamu seperti bongkahan es di lautan, begitu dingin dan menghancurkanku yang begitu rapuh
Aku tersakiti oleh dirimu
Aku yang hancur karena dinginmu
Padahal aku yang mendekatkan diri kepadamu

Salahku memang, terlalu mencintai hingga lupa diri
Terlalu mencintai hingga seringkali berimajinasi
Terlalu mencintai hingga dikhianati ekspektasi
Bukan kamu yang salah, aku yang salah karena mencintaimu
Bahkan mencintaimu dalam diam saja seperti memberiku energi
Kamu memberiku bahagia dalam menjalani hari-hariku
Aku lupa bahwa kamu manusia biasa, yang bisa mengecewakan
Yang bisa menyakiti lewat perkataan
Yang bisa membuatku menangis meski tanpa kamu sadari

Meski kita berhadapan, namun kita saling bertatapan hampa
Saling membisu, tanpa saling mengacuhkan
Aku merasakan ketidakpedulianmu
Aku merasakan rasa tidak sukamu
Dan aku merasakan diriku yang ingin segera berlari menjauh untuk menangis
Aku kesulitan menerjemahkan tingkah lakumu yang seolah membenciku
Aku ingin tahu alasan dibalik perubahanmu
Tapi mungkin itu akan lebih mengecewakanku

Rasanya aku hanya perlu membiasakan diri. Membiasakan diri sebelum kita saling mengenal. Hingga kini kita menjadi dua orang asing
Kamu hanya terlalu nyaman untuk ku hindari
Kamu terlalu indah untuk ku lupakan

Seandainya benci bisa menjadi caraku melupakanmu. Akan kulakukan.
Namun kusadar, hal paling sulit dari mencintai adalah melepaskan dan merelakan
Tapi melupakanmu menjadi hal yang pasti harus kulakukan
Aku hanya butuh waktu menghilangkanmu dari rasa nyamanku dan kebiasaanku mencintaimu

Sunday, 19 May 2019

Harapan Yang Tumbuh, Hati Yang Patah

Pernah ada kamu untuk ku perjuangkan
tetap berharap kamu kumiliki meski sadar diri
aku tak pernah menjadi seorang yang kamu inginkan

Setiap cinta memang memiliki batas
hingga aku mengejarmu hampir saja seperti memelas
Kamu yang begitu kukagumi
hatimu begitu ingin ku singgahi

jatuh cinta tak pernah salah memilih hati untuk dicintai
jatuh cinta terkadang hanya salah memilih waktu yang tepat
sehingga kamu merasa aku mencintaimu adalah jatuh cinta yang salah alamat

aku hanya memiliki harapan tanpa pernah diberikan sebuah kemungkinan
tak ada jalan, maka akan aku cari
tak ada kesempatan, maka akan kutunggu

namun ketika hatimu berkata aku tak perlu mencintaimu
aku takkan berlalu
ketika hatimu berkata aku tak pernah pantas
maka aku takkan memelas

ribuan harapan biarlah menjadi doa yang paling kutangisi
meneriakkan namamu setiap malam hingga air mataku menjadi lautan
tak apa, untukmu aku rela tenggelam dalam air mataku sendiri

mencintai tanpa diberikan sebuah harapan bukanlah sebuah kebodohan
jatuh cinta itu berjuang
patah hati adalah hal yang biasa
luka akan membuatmu dewasa

kehilangan orang yang salah akan membawamu pada seseorang yang tepat
kehilangan tak selamanya menjadi hal yang buruk
tanpa kehilangan, barangkali kamu akan lebih lama membuang waktu berjuang
dan berharap pada hati yang salah

kesalahan dalam mencintai hanyalah ketika sudah tak dihargai
tetapi memilih tetap berjuang dan tak tahu diri
jatuh cinta adalah menghargai diri sendiri
bukan rela menjatuhkan diri

harapan yang pernah tumbuh untukmu
biarlah menjadi satu alasan hatiku patah
kamu tak pernah menyakiti, aku hanya disakiti harapanmu sendiri
kamu tak pernah menjatuhkan, aku hanya merasa sudah dikecewakan
kamu tak pernah meninggalkan pergi
aku hanya merasa kehilangan tanpa pernah merasa memiliki

maafkan aku yang mencintai, tetapi kadang lupa untuk tahu diri
aku hanyalah seorang yang cintanya jatuh dihatimu
jika kamu tak menginginkan, kamu pun tak seharusnya disalahkan
patah hati karena berani mencintaimu, adalah aku yang pantas untuk seutuhnya disalahkan

jatuh cinta bukanlah sebuah pemaksaan perasaan
mencintaimu barangkali Tuhan memang menakdirkanmu menjadi orang yang salah untuk kuperjuangkan
lalu menakdirkan hati yang lain yang mampu kamu terima perasaannya
meski kenyataan itu membuatku merasakan sakit hati

paling tidak, mencintaimu mengajariku menerima dan lapang dada untuk tahu diri
bukan memaksakan perasaanku sendiri
bahagialah, tak apa
mencintaimu aku rela untuk terluka


- Yusuf Hamdhani (Merelakanmu seutuhnya)

.
.
.
Untuk kamu yang selalu aku rindukan
yang menjauh tanpa sebab
yang marah tanpa kutau alasannya



Wednesday, 1 May 2019

Dear you : Rindu

Rasa yang tak bersuara itu menyakitkan. Rindu yang menyiksa tak mampu tersampaikan. Tapi melupakan adalah hal tersulit yang bisa kulakukan
.
Aku sepi dan hampir frustasi. Aku khawatir pada diriku yang berimajinasi, seringkali menikmati indahmu dalam angan. Aku takut akan ekspektasi yang mengkhianati. Saat kesendirian menghantui, saat itu pula aku menggila memikirkanmu. Lidahku kaku, aku tak mampu berkata-kata bahkan berbicara lewat tatapan mata saja ku tak sanggup. Tatapanmu seringkali membuat hatiku berdesir. Mencintaimu sungguh menguras energi dan menyiksa batin. Imanmu meluluhkan hatiku yang sempat beku
.
Aku tahu aku masih harus melewati waktu yang menyiksa karena merindu. Aku masih harus melangitkan harapku pada Sang Maha Pembolak balik hati. Meski ku percaya pada SabdaNya yang akan mempertemukan orang yang tepat di waktu yang tepat. Tapi setiap mantra doa yang kurapalkan tidak mudah membuat otakku berhenti memikirkanmu. Setiap kali dinginmu menusuk sanubari. Setiap langkahmu melewatiku bagai angin lalu. Setiap kali kita menjadi asing dan tak pernah tegur sapa. Maka saat itu pula aku belajar menata kembali perasaanku agar tetap utuh seperti semula.
.
Kamu adalah kata yang kutuliskan tiap malam dalam celengan rinduku
Kamu adalah harap yang selalu kusampaikan pada Tuhan untuk hatinya selalu dijaga
Kamu adalah sosok yang membuatku bahkan mencemburui hal yang tak masuk akal
Kamu tetap kamu yang dulu
Tapi kamu yang berjarak membuat kita tak bisa seperti dulu
.
Jadi apakah kita lanjutkan jarak yang menyiksa ini?
Haruskah ku palingkan hatiku untuk berhenti berharap pada hatimu yang samar?
Ataukah ku masih harus bersabar menyelipkan namamu dalam doaku setiap malam?

Dear You : Mencintaimu Menyiksa Batinku

Karena rasa yang tak bersuara itu menyakitkan
Ingin lupa tapi tak bisa
Ingin berbicara tapi lewat tatapan mata tapi tak sanggup
Tapi kamu selalu mengusik diri bahkan sampai mampir dalam mimpi
Hingga membuatku lupa cara untuk melupakanmu

Ah sudahlah berhenti membuatku terbangun di malam hari karena kabar buruk yang tersampaikan lewat mimpiku
Berhenti membuat hatiku berdegup kencang tiap mengingat namamu
Menatap matamu aku tak sanggup apalagi bercanda tawa denganmu lagi

Mencintaimu terkadang membuatku kesal
Mencintaimu menguras emosiku
Menyiksa batinku

Tapi aku tak sanggup menghilangkan perasaanku kepadamu
Harga diriku terlalu tinggi dan membuatku selalu memungkiri perasaanku padamu
Aku merasa tak pantas jika bersanding dengan dirimu

Tapi jarakmu membuatku makin tersiksa
Tatapanmu membuat hatiku berdesir
Kamu adalah kata yang kutuliskan tiap malam dalam celengan rinduku
Kamu adalah harap yang selalu kusampaikan pada Tuhan untuk hatinya selalu dijaga
Kamu adalah sosok yang membuatku bahkan mencemburui hal yang tak masuk akal
Kamu tetap kamu yang dulu
Tapi kamu yang berjarak membuat kita tak bisa seperti dulu

Jadi apakah kita lanjutkan jarak yang menyiksa ini?
Haruskah ku palingkan hatiku untuk berhenti berharap pada hatimu yang samar?