Tuesday, 11 May 2021

Katakan #2

"jangan genggam terlalu keras, nanti tangan kamu sakit" katanya

"jangan ambil panah yang jatuh ke bawah untuk ditancapkan ke hatimu, nanti kamu terluka" katanya

"jangan dipikirkan, kasihan otak kamu dibebankan banyak hal untuk dipikirkan" katanya

"jangan banyak memikirkan skenario masa depan sampai lupa masa kini, biarkan semua mengalir bagaimana mestinya" katanya

Tapi

aku masih melakukan itu

Jadi Aku Ingin mengasingkan diri di pulau tak berpenghuni

dunia ini terlalu ramai 

membuat aku mudah lelah

Katakan #1

 Aku

ingin waktu berhenti

sebentar

membiarkanku bernapas 

sebentar saja

Tuesday, 27 April 2021

Self Acceptance

 I am just human, so it is okay to have weakness and mistake right? I learn something new today about self acceptance. Because my perfectionism sometimes always killing me and make me control everything in this world, but again Im just human not God or avatar aang right? It is okay to make mistake and everything not going well as planned. 

I always doubt my self in every single day and worry about how things will work out for me. It is good or not? being perfectionist make me never feeling good enough. 

but now I challenge my negative thought. When they blame me because I cant perform well, and my deep heart also agree with that. I need to focus, "you wrong! because I am just human. I can make mistake. I am newbie and be failed person. But me still me. I just need focus to keep learn something"

Talking with english languages with my low capability make me want to hiding my self. So shame

but, If I blame my self for my failed, for my mistake. How can I lay and survive? I need always have to be kind to my self


Saturday, 24 April 2021

Kebiasaan buruk

Aku punya kebiasaan buruk. Setiap kali cemas terhadap sesuatu, ada yang berat di hati sampai bikin napas tuh rasanya berat akhirnya bikin gak bisa tidur. Akhirnya itu tugas playlist youtube brainwave dan deep sleep music untuk membawaku untuk terlelap. Tapi gak segampang itu. Aku perlu meyakinkan diri untuk kembali beristirahat. Aku tarik napas dan hembuskan berkali-kali sambil meyakinkan diri "pikirannya kita simpen besok ya, sekarang kita tidur yuk"

Rasanya ketika orang lain dan dunia terus menghantam, menyerang tanpa ampun, mendengarkan tanpa penuh empati. Bukankah kita harus jadi satu-satunya yang jadi support system diri sendiri? Bukankah kita harus jadi orang yang bukannya lari, tapi memeluk dengan hangat diri sendiri? 

Lalu aku menatap diriku di cermin yang kelelahan setelah berlarut dengan perasaan dan jadi spons atas kalimat menyakitkan orang lain. Mendengarkan dan meresap semuanya sampai lupa bahwa ada diriku yang perlu didengar. Aku menatap lekat diriku di cermin dengan penuh kehangatan. Aku tatap matanya yang sudah bengkak dan merah karena kantung mata yang bocor. Tiba-tiba tanpa aba-aba air mata kembali mengalir dengan deras. 

Ada apa? Kenapa menangis lagi?
Ternyata didengarkan dengan penuh empati itu menenangkan. Butuh kesadaran penuh untuk berempati. Untuk melihat tanpa menghakimi. Meski itu oleh diriku sendiri.

Kebiasaan buruk, mengabaikan hak dan emosi diri lalu kemarahan yang akhirnya meledak didalam rasanya telah menghancurkan aku perlahan. Aku abai terhadap diriku. Aku berharap mereka mendengarkan ketika aku bersedia mendengarkan dengan tulus. Aku memaafkan tapi aku marah ke dalam diri. Aku lupa ada diriku yang perlu diperhatikan.

Aku tatap kembali diriku yang penuh air mata di cermin "hei kamu, menjadi orang yang sensitif, mudah menangis itu tak apa. Kamu udah kuat sejauh ini. Menangis membuat kamu lebih ramah terhadap diri dan sekitar. Menangis gak membuat kamu lemah, menangis itu tanda kamu tau ada yang salah dan anggaplah itu penyalur emosi. Tapi jangan terlalu lekat dengan perasaan. Perasaan itu bukan kamu. Pikiran itupun bukan kamu. Kamu adalah kamu. Beristirahatlah kalau lelah. Tidurlah. Jangan biarkan pikiranmu bahkan mengambil waktu istirahatmu. Lepaskan. Maafkan. Bukan untuk mereka, tapi untuk kamu. Tapi jika itu terlalu berat, luapkan. Biarkan mereka tau kamu kesakitkan dan kamu terluka. Membiarkan mereka tau bahwa kami terluka itu gak salah. Karna kamu itu manusia biasa yang punya hati dan bisa terluka bahkan akibat perkataan orang lain. Makasih udah melangkah sejauh ini. Kita tetap melangkah bersama ya sampai akhir"

Friday, 23 April 2021

It Just Feeling

Ada satu analogi yang aku dapetin dari Podcastnya Merry Riana dan Marissa Anita. Katanya gini :

"Kita dan Perasaan itu ibarat stasiun dan kereta. Kereta memiliki banyak gerbong, dan anggaplah gerbong itu berbagai perasaan. Bisa berupa sedih, marah, kecewa yang semua hanya akan lewat gitu aja. Sedangkan kita stasiun dan pemberhentiannya. Karena Feeling itu comes and go. Tapi seringkali orang terlalu masuk ke dalam perasaan itu seolah itu adalah dirinya hingga akhirnya terbawa sampai kereta itu terus jalan dan kita terbelenggu didalamnya. Forever trap in that train"

It just feeling right or it just my period? 

Thursday, 22 April 2021

Hidup seorang manusia dewasa

Semakin dewasa seseorang, nyatanya hidup itu tambah clueless dan gak punya panduan. Rasanya sering tersesat sendirian, tanpa seorang pun menemani. Rasanya napas jadi berat dan isi kepala beradu ingin didengar. Jangankan menghadapi masalah yang datang dan rasa ingin dimengerti. Aku aja sudah kewalahan untuk mengerti diri sendiri dan mengamati pikiran yang datang. Kata mereka, pikiran ini tak perlulah diusir pergi jauh, coba amati. Semakin aku mengamati mereka, semakin sering rasanya air mata jatuh. 

Sebagian diriku mengutuk aku karena vulnerable, sebagian diriku mempertahankan dirinya dan menganggap tak apa menjadi lemah dan rapuh. Lalu aku bingung, bagian mana diriku yang asli?

Pelukan akan sangat menghangatkan diri ini yang kedinginan dan hampir tak bertenaga. Tapi kepada siapa aku meminta pelukan hangat? 

Aku lagi-lagi mengutuk diriku yang kian hari semakin banyak menghabiskan banyak tisu karena rasanya kantong mataku berat sekali. 

Kenapa dadaku rasanya berat sekali? apa yang terjadi? Kenapa rasanya aku sendirian lagi? atau memang aku sedang sendirian? 

Aku sering membayangkan diriku ada di tengah hutan, di pulau tak berpenghuni dan diatas tebing

Bukankah manusia memang akan selalu mengecewakan? lantas mengapa kamu terus berharap kepada manusia? hardikku kepada diri. 

Mungkin benar kata dokter itu, aku perlu melatih napasku

My Mind #2

"Hanya karena kamu beda sendiri bukan berarti perasaan kamu ga valid, apapun yang rasain itu valid"

Tuesday, 20 April 2021

My Mind #1

 buku emang tempat pelarian paling nyaman yang bisa bikin rasa panas di dada, gejolak amarah dan kebencian pada sekitar meredup. Meski masih ada percikan sedikit. Tapi setidaknya ku cukup tenang

Sunday, 11 April 2021

Tired

Sometimes i just tired of being my self. When I see my self in the mirror, still confuse and asking "who are you? are you kind? or bad? are you pretend to be kind person? or what? "


Monday, 8 March 2021

letter for my self

Hi, kamu, diriku
Maaf untuk selalu memaki, menghardik dan membenci kamu. Untuk hal kecil maupun besar yang bahkan terlalu malu untuk menghadap orang lain. Semakin besar rasa maluku, semakin benci aku terhadap kamu. Semakin kesal aku terhadap kesalahan, semakin besar raca benciku. Aku lupa bahwa kamu adalah sosok yang selalu ada, sosok yang sudah bekerja keras dan menanggung banyak beban. Aku seringkali lupa, berdiri denganmu tapi tidak pernah merasa puas dan menjadi utuh. Yang aku lakukan hanya kecewa, marah dan membenci. Aku tidak pernah memaafkan kamu diriku, disaat aku berusaha mencintai kamu. Bagaimana aku bisa mencintai jika maaf saja tidak pernah ku lakukan dengan tulus?
Disaat aku merasa sepi dengan hidupku, disaat aku tak mampu berdiri dan hanya ingin menangis sambil memikirkan bagaimana jika aku menghilang dari radar bumi ini. Pikiran jahatku terhadap kamu diriku, tidak pernah sekalipun aku meminta maaf dengan tulus. 

Telinga yg aku pakai untuk mendengarkan keluh kesah orang lain, tangan yang aku gunakan untuk menggenggan tangan orang lain, pelukan hangatku, aku menyadari tidak pernah sekalipun aku melakukan itu ke kamu. Nyatanya aku memang kejam, aku kejam terhadap diriku sendiri. Bagaimana caranya agar aku mencintai kamu,diriku? Pikiran ingin menghilang datang lagi, entah kenapa, aku hanya terlalu lelah untuk berjalan tapi pikiranku tidak pernah mau mengerti dan berhenti kasak kusuk membuat aku kelelahan.

Temanku bilang, aku sudah melangkah cukup jauh dan itu bagus. Aku tidak jalan ditempat. Keberanianku membuktikan bahwa aku berhasil mengambil satu langkah maju, tapi kenapa aku masih saja membenci kamu? 

Aku tidak pernah menyadari bahwa aku tidak pernah memvalidasi setiap perasaanku, aku terus menerima label dari orang lain. Menyerap segala emosi mereka, membuat aku marah pada kamu. Pantas saja aku selalu lelah, karena bukannya memaklumi dan validasi segala perasaan km. Aku justru validasi label orang lain. Kenapa temanku justru merasa kasian kepadaku, tapi aku sendiri engga? Ternyata diriku menyedihkan.

So happy women day, diriku. Kamu berharga, kamu pantas dicintai dan dihargai, diakui perasaannya dan dimengerti. Aku berjanji, akan belajar mencintai kamu, untuk perlahan untuk berbaik hati memeluk dan selalu ada. Terima kasih sudah berjalan sejauh ini.

Saturday, 13 February 2021

Melangkah Dalam Sepi

Semakin lama semakin tersadar bahwa kerinduan yang datang karena kehilangan itu menyakitkan. Hari diselimuti sepi, diri dipeluk kehampaan, dan lambat laun hati semakin sakit karena tahu sosoknya tak lagi menemani, tak bisa tersentuh jemari namun tetap mengisi relung hati

Karena kehilangan tidak semudah itu, jadi menangislah jika butuh menangis
Karena kehilangan tidak pernah semudah pepatah yang patah akan tumbuh, hilang akan berganti
Maka jika butuh waktu untuk memeluk malam sepi dan hampa diliputi kerinduan yang amat dalam. Maka lakukanlah

Karena kehilangan menjadi trauma yang mendalam, maka aku memahami bahwa menerima kenyataan orang tercinta telah tiada, sangat menyakitkan. 

Thursday, 11 February 2021

kehilangan

Bagaimanapun siapnya seseorang
Bukankah kehilangan tetap menjadi trauma mendalam yang menyakitkan?

Benteng Pertahanan Diri

Bagaimana rasanya terpenjara dalam sepi, bahkan untuk menepi saja tanpa seorangpun menemani
Bagaimana rasanya mengunci diri dalam benteng kokoh yang dibangun seorang diri tanpa membiarkan orang lain masuk menemani
Bukankah kesepian rasanya seorang diri?
Mengapa menjauh agar tidak tersakiti
Mengapa menghindar agar tidak terluka
Mengapa keras agar orang lain tidak melihat kamu menangis?
Bukankah manusia emang lemah? Bukankah tidak apa untuk menangis? Bukankah wajar jika seseorang datang dan menyakiti? Bukankah wajar kita terluka?
Mengapa takut mencinta agar tidak terluka
Mengapa takut mencintai agar tidak tersakiti
Menginginkan bahagia tapi tanpa mau melewati rasa sakit.
Bukankah manusia tumbuh bersamaan dengan luka yang ada?

Pelan pelan biarkan orang lain masuk ke dalam kastilmu
Melewati benteng kokoh yang telah kamu bangun bertahun-tahun, dengan rasa sakit, dengan kecewa, derita dan air mata
Jangan biarkan mereka memanjat benteng kokohmu dan ketika masuk lalu kamu usir mereka dengan begitu kejamnya. Aku tau itu hanya rasa takutmu terluka dan kecewa.
Jangan biarkan mereka menerobos masuk dan memaksamu keluar dari kastilmu tanpa meminta ijin darimu

Tak apa kamu masih berada di dalam kastil dengan selimut bulumu dan secangkir coklat panas. Tapi biarkan mereka masuk, terbuka dan ramah dengan mereka yang ingin mengenalmu. Jangan biarkan dirimu meratapi nasib kesepian seorang diri sampai ajal menanti.


Thursday, 28 January 2021

You Can't Control Everything In This world

Satu hal yang aku pelajari hari ini, bahwa tiap orang karakternya unik dan berbeda. Untuk aku yang perfectionist overthinking memaklumi karakter orang itu hal yang cukup sulit. Rasanya aneh ketika bertemu dengan orang yang secara status social cukup baik dan dihormati orang lain tapi terus mengagungkan diri bahwa dia yang terbaik. Kenapa harus begitu? Kenapa meminta orang lain menghormati dia? kenapa meminta orang lain memuja muji dia? Kenapa haus akan pujian orang dan pengakuan orang lain? Di suatu moment aku merasa ini hal yang salah, rasanya aneh dan bikin capek aku karena jadi gak selow ketika menghadapi orang lain. Tapi aku inget yang aku baca, aku gabisa kontrol hal-hal diluar kendali aku, perilaku orang itu diluar kendali. Kalau gak mau diperlakukan gak baik, bukankah demi kenyaman diri harus bilang ? entah dia akan respon apa setelahnya, yang pasti tidak mengharap dan menyiksa diri untuk memaksa diri untuk mengontrol diluar hal yang gak bisa kita kontrol bukan?

"you can't control everything in this world, You can't prevent a storm from coming but you can prepare for it. you can't control how someone else behaves, but you can control how you react. Recognize that sometimes, all you can control is your effort and your attitude. When you put your energy into the things you can control, you'll be much more effective."

Sunday, 17 January 2021

Waktu Untuk Merenung

Akhir-akhir ini rasanya ada yang berat di kepala, kayak rasanya isi kepala tuh penuh dan berisik (lagi) sampe bikin kadang susah buat tidur. Lalu malam ini ketemu artikel Greatmind yang berjudul "Bercakap Bersama Aristiwidya Bramantika: Cuti Panjang"

Dari artikel itu gue menemukan insight baru yang ngena di hati. Aristiwidya bilang ada moment di hari tertentu merasa kayak capek banget dan nangis. Karena merasa ada yang salah akhirnya dia diijinkan kantor untuk cuti panjang 6 bulan. Tujuannya adalah menyeimbangkan diri dan menjadi diri yg lebih baik. Aristiwidya memetakan hidupnya dalam 8 area (keluarga, pertemanan, percintaan, karir, keuangan, kesehatan, pengembangan diri dan spiritualitas).

Alasan dia memilih untuk cuti adalah merasa jadi orang yg bahkan gak disukai diri sendiri, gampang kepicu, negatif thinking dan jadi toxic person. Pernah ga sih merasa kayak kita tuh bingung dan tersesat sendirian dipikiran yang kayak labirin, susah banget menemukan jalan keluar. Tapi kita sendiri bingung apa yang sesungguhnya terjadi?

Aristiwidya ingin menemukan balancing doing dan being. Karena selama bekerja ternyata dia terjebak di doing dan tidak menjalankan being. Sebenernya being itu apa sih? Dia bilang being itu moment ketika berdoa rasa syukurnya besar banget dan perasaan yang menyelimuti diri itu penuh dengan kegembiraan, kekaguman dan kedamaian. Cuti panjangnya bahkan dipakai untuk melakukan kegiatan yang produktif yang memang tujuannya untuk diri sendiri. Sedangkan sebelumnya biasa dia pakai untuk mengejar mimpi orang lain terutama dalam sebuah organisasi besar yang mana berat banget ketika itu gak sesuai dengan diri kita.

Dari tulisan ini gue menemukan hal baru yang sangat menginspirasi dan sebuah jawaban dari kegundahan hati gue akhir-akhir ini. Ketika hati gue merasa kosong dan gue hidup dalam kebosanan, kekecewaan dan kemarahan dengan keadaan. Tapi gue bahkan gatau apa yang gue cari.

Aristiwidya bilang :
1. bermain dengan pikiran untuk bermimpi lebih besar, mencari diri yang sesungguhnya belum pernah kita lihat sebelumnya
2. Jangan terjebak di nice dan tidak melakukan kind. Jadi ingin dianggap orang "baik" dan sangat ingin disukai orang lain. Karena Nice (niatnya untuk disukai) sedangkan kind (melakukan hal yang benar)
3. Coba ada keseimbangan antara doing dan being
4. Lakukan hal-hal yang mendekatkan kita ke hal memang "the real of me"
5. Buat list ketakutan dan kegagalan apa yang dihadapi setiap hari, mana yang berhasil. Praktekan keberanian dari hal kecil untuk menghadapi ketakutan dan kegagalan

Dari tulisan ini gue sadar ternyata yang gue rasakan adalah sinyal dari otak gue karena gue hanya fokus doing dan melupakan being. Sehingga gue lupa kalau banyak hal yang bisa gue syukuri dengan melakukan being atau hal yang gue suka. bukan hanya terjebak pada rutinitas kewajiban sehingga jadi manusia tanpa jiwa. Gue bahkan sudah melupakan rutinitas mindfullness yang membuat gue fokus sama napas dan diri gue saat ini, pikiran gue terlalu jauh berkelana ke masa depan dan terjebak di masa lalu. Gue mencari sesuatu untuk disalahkan atas ketidaknyamanan diri gue maupun batin yang terjadi di masa sekarang. Rasanya gak enak. Kayak ada yang salah tapi gue sendiri gak tahu apa yang salah.

Gue lupa ada diri gue yang perlu dikasih makan, ada otak gue yang perlu asupan, ada diri gue yang perlu diperhatikan sama gue. Tapi ketakutan gue membuat gue semakin menyudutkan dan menyalahkan diri seolah emang diri gue gak berguna. suara pikiran yang sangat amat mengganggu. Gue rindu moment dimana gue bisa melewati melawan isi pikiran gue yang selalu berisik. Gue memang sedang melewati tahap ketidaknyamanan dan ketakutan akan kegagalan gue ga siap buat gagal. Gue takut akan gagal, gue takut salah sehingga gue mengurung jiwa gue sangat dalam dan membungkam suara hati gue sampai akhirnya gue frustasi sendiri. Gue khawatir dengan pendapat orang gue karna gue yang keras kepala dan tidak seperti apa yang selalu ditonjolkan lingkungan, untuk menjadi orang yang selalu baik dan disukai banyak orang. Gue menjadi orang yang beda yang gue rasa itu benar tapi ternyata gak lingkungan suka. Gue ketemu berbagai macam frustasi terhadap diri yang akhirnya bikin lelah. 

Sekian renungan malam waktu Indonesia untuk overthinking.