Sunday, 11 April 2021

Tired

Sometimes i just tired of being my self. When I see my self in the mirror, still confuse and asking "who are you? are you kind? or bad? are you pretend to be kind person? or what? "


Monday, 8 March 2021

letter for my self

Hi, kamu, diriku
Maaf untuk selalu memaki, menghardik dan membenci kamu. Untuk hal kecil maupun besar yang bahkan terlalu malu untuk menghadap orang lain. Semakin besar rasa maluku, semakin benci aku terhadap kamu. Semakin kesal aku terhadap kesalahan, semakin besar raca benciku. Aku lupa bahwa kamu adalah sosok yang selalu ada, sosok yang sudah bekerja keras dan menanggung banyak beban. Aku seringkali lupa, berdiri denganmu tapi tidak pernah merasa puas dan menjadi utuh. Yang aku lakukan hanya kecewa, marah dan membenci. Aku tidak pernah memaafkan kamu diriku, disaat aku berusaha mencintai kamu. Bagaimana aku bisa mencintai jika maaf saja tidak pernah ku lakukan dengan tulus?
Disaat aku merasa sepi dengan hidupku, disaat aku tak mampu berdiri dan hanya ingin menangis sambil memikirkan bagaimana jika aku menghilang dari radar bumi ini. Pikiran jahatku terhadap kamu diriku, tidak pernah sekalipun aku meminta maaf dengan tulus. 

Telinga yg aku pakai untuk mendengarkan keluh kesah orang lain, tangan yang aku gunakan untuk menggenggan tangan orang lain, pelukan hangatku, aku menyadari tidak pernah sekalipun aku melakukan itu ke kamu. Nyatanya aku memang kejam, aku kejam terhadap diriku sendiri. Bagaimana caranya agar aku mencintai kamu,diriku? Pikiran ingin menghilang datang lagi, entah kenapa, aku hanya terlalu lelah untuk berjalan tapi pikiranku tidak pernah mau mengerti dan berhenti kasak kusuk membuat aku kelelahan.

Temanku bilang, aku sudah melangkah cukup jauh dan itu bagus. Aku tidak jalan ditempat. Keberanianku membuktikan bahwa aku berhasil mengambil satu langkah maju, tapi kenapa aku masih saja membenci kamu? 

Aku tidak pernah menyadari bahwa aku tidak pernah memvalidasi setiap perasaanku, aku terus menerima label dari orang lain. Menyerap segala emosi mereka, membuat aku marah pada kamu. Pantas saja aku selalu lelah, karena bukannya memaklumi dan validasi segala perasaan km. Aku justru validasi label orang lain. Kenapa temanku justru merasa kasian kepadaku, tapi aku sendiri engga? Ternyata diriku menyedihkan.

So happy women day, diriku. Kamu berharga, kamu pantas dicintai dan dihargai, diakui perasaannya dan dimengerti. Aku berjanji, akan belajar mencintai kamu, untuk perlahan untuk berbaik hati memeluk dan selalu ada. Terima kasih sudah berjalan sejauh ini.

Saturday, 13 February 2021

Melangkah Dalam Sepi

Semakin lama semakin tersadar bahwa kerinduan yang datang karena kehilangan itu menyakitkan. Hari diselimuti sepi, diri dipeluk kehampaan, dan lambat laun hati semakin sakit karena tahu sosoknya tak lagi menemani, tak bisa tersentuh jemari namun tetap mengisi relung hati

Karena kehilangan tidak semudah itu, jadi menangislah jika butuh menangis
Karena kehilangan tidak pernah semudah pepatah yang patah akan tumbuh, hilang akan berganti
Maka jika butuh waktu untuk memeluk malam sepi dan hampa diliputi kerinduan yang amat dalam. Maka lakukanlah

Karena kehilangan menjadi trauma yang mendalam, maka aku memahami bahwa menerima kenyataan orang tercinta telah tiada, sangat menyakitkan. 

Thursday, 11 February 2021

kehilangan

Bagaimanapun siapnya seseorang
Bukankah kehilangan tetap menjadi trauma mendalam yang menyakitkan?

Benteng Pertahanan Diri

Bagaimana rasanya terpenjara dalam sepi, bahkan untuk menepi saja tanpa seorangpun menemani
Bagaimana rasanya mengunci diri dalam benteng kokoh yang dibangun seorang diri tanpa membiarkan orang lain masuk menemani
Bukankah kesepian rasanya seorang diri?
Mengapa menjauh agar tidak tersakiti
Mengapa menghindar agar tidak terluka
Mengapa keras agar orang lain tidak melihat kamu menangis?
Bukankah manusia emang lemah? Bukankah tidak apa untuk menangis? Bukankah wajar jika seseorang datang dan menyakiti? Bukankah wajar kita terluka?
Mengapa takut mencinta agar tidak terluka
Mengapa takut mencintai agar tidak tersakiti
Menginginkan bahagia tapi tanpa mau melewati rasa sakit.
Bukankah manusia tumbuh bersamaan dengan luka yang ada?

Pelan pelan biarkan orang lain masuk ke dalam kastilmu
Melewati benteng kokoh yang telah kamu bangun bertahun-tahun, dengan rasa sakit, dengan kecewa, derita dan air mata
Jangan biarkan mereka memanjat benteng kokohmu dan ketika masuk lalu kamu usir mereka dengan begitu kejamnya. Aku tau itu hanya rasa takutmu terluka dan kecewa.
Jangan biarkan mereka menerobos masuk dan memaksamu keluar dari kastilmu tanpa meminta ijin darimu

Tak apa kamu masih berada di dalam kastil dengan selimut bulumu dan secangkir coklat panas. Tapi biarkan mereka masuk, terbuka dan ramah dengan mereka yang ingin mengenalmu. Jangan biarkan dirimu meratapi nasib kesepian seorang diri sampai ajal menanti.


Thursday, 28 January 2021

You Can't Control Everything In This world

Satu hal yang aku pelajari hari ini, bahwa tiap orang karakternya unik dan berbeda. Untuk aku yang perfectionist overthinking memaklumi karakter orang itu hal yang cukup sulit. Rasanya aneh ketika bertemu dengan orang yang secara status social cukup baik dan dihormati orang lain tapi terus mengagungkan diri bahwa dia yang terbaik. Kenapa harus begitu? Kenapa meminta orang lain menghormati dia? kenapa meminta orang lain memuja muji dia? Kenapa haus akan pujian orang dan pengakuan orang lain? Di suatu moment aku merasa ini hal yang salah, rasanya aneh dan bikin capek aku karena jadi gak selow ketika menghadapi orang lain. Tapi aku inget yang aku baca, aku gabisa kontrol hal-hal diluar kendali aku, perilaku orang itu diluar kendali. Kalau gak mau diperlakukan gak baik, bukankah demi kenyaman diri harus bilang ? entah dia akan respon apa setelahnya, yang pasti tidak mengharap dan menyiksa diri untuk memaksa diri untuk mengontrol diluar hal yang gak bisa kita kontrol bukan?

"you can't control everything in this world, You can't prevent a storm from coming but you can prepare for it. you can't control how someone else behaves, but you can control how you react. Recognize that sometimes, all you can control is your effort and your attitude. When you put your energy into the things you can control, you'll be much more effective."

Sunday, 17 January 2021

Waktu Untuk Merenung

Akhir-akhir ini rasanya ada yang berat di kepala, kayak rasanya isi kepala tuh penuh dan berisik (lagi) sampe bikin kadang susah buat tidur. Lalu malam ini ketemu artikel Greatmind yang berjudul "Bercakap Bersama Aristiwidya Bramantika: Cuti Panjang"

Dari artikel itu gue menemukan insight baru yang ngena di hati. Aristiwidya bilang ada moment di hari tertentu merasa kayak capek banget dan nangis. Karena merasa ada yang salah akhirnya dia diijinkan kantor untuk cuti panjang 6 bulan. Tujuannya adalah menyeimbangkan diri dan menjadi diri yg lebih baik. Aristiwidya memetakan hidupnya dalam 8 area (keluarga, pertemanan, percintaan, karir, keuangan, kesehatan, pengembangan diri dan spiritualitas).

Alasan dia memilih untuk cuti adalah merasa jadi orang yg bahkan gak disukai diri sendiri, gampang kepicu, negatif thinking dan jadi toxic person. Pernah ga sih merasa kayak kita tuh bingung dan tersesat sendirian dipikiran yang kayak labirin, susah banget menemukan jalan keluar. Tapi kita sendiri bingung apa yang sesungguhnya terjadi?

Aristiwidya ingin menemukan balancing doing dan being. Karena selama bekerja ternyata dia terjebak di doing dan tidak menjalankan being. Sebenernya being itu apa sih? Dia bilang being itu moment ketika berdoa rasa syukurnya besar banget dan perasaan yang menyelimuti diri itu penuh dengan kegembiraan, kekaguman dan kedamaian. Cuti panjangnya bahkan dipakai untuk melakukan kegiatan yang produktif yang memang tujuannya untuk diri sendiri. Sedangkan sebelumnya biasa dia pakai untuk mengejar mimpi orang lain terutama dalam sebuah organisasi besar yang mana berat banget ketika itu gak sesuai dengan diri kita.

Dari tulisan ini gue menemukan hal baru yang sangat menginspirasi dan sebuah jawaban dari kegundahan hati gue akhir-akhir ini. Ketika hati gue merasa kosong dan gue hidup dalam kebosanan, kekecewaan dan kemarahan dengan keadaan. Tapi gue bahkan gatau apa yang gue cari.

Aristiwidya bilang :
1. bermain dengan pikiran untuk bermimpi lebih besar, mencari diri yang sesungguhnya belum pernah kita lihat sebelumnya
2. Jangan terjebak di nice dan tidak melakukan kind. Jadi ingin dianggap orang "baik" dan sangat ingin disukai orang lain. Karena Nice (niatnya untuk disukai) sedangkan kind (melakukan hal yang benar)
3. Coba ada keseimbangan antara doing dan being
4. Lakukan hal-hal yang mendekatkan kita ke hal memang "the real of me"
5. Buat list ketakutan dan kegagalan apa yang dihadapi setiap hari, mana yang berhasil. Praktekan keberanian dari hal kecil untuk menghadapi ketakutan dan kegagalan

Dari tulisan ini gue sadar ternyata yang gue rasakan adalah sinyal dari otak gue karena gue hanya fokus doing dan melupakan being. Sehingga gue lupa kalau banyak hal yang bisa gue syukuri dengan melakukan being atau hal yang gue suka. bukan hanya terjebak pada rutinitas kewajiban sehingga jadi manusia tanpa jiwa. Gue bahkan sudah melupakan rutinitas mindfullness yang membuat gue fokus sama napas dan diri gue saat ini, pikiran gue terlalu jauh berkelana ke masa depan dan terjebak di masa lalu. Gue mencari sesuatu untuk disalahkan atas ketidaknyamanan diri gue maupun batin yang terjadi di masa sekarang. Rasanya gak enak. Kayak ada yang salah tapi gue sendiri gak tahu apa yang salah.

Gue lupa ada diri gue yang perlu dikasih makan, ada otak gue yang perlu asupan, ada diri gue yang perlu diperhatikan sama gue. Tapi ketakutan gue membuat gue semakin menyudutkan dan menyalahkan diri seolah emang diri gue gak berguna. suara pikiran yang sangat amat mengganggu. Gue rindu moment dimana gue bisa melewati melawan isi pikiran gue yang selalu berisik. Gue memang sedang melewati tahap ketidaknyamanan dan ketakutan akan kegagalan gue ga siap buat gagal. Gue takut akan gagal, gue takut salah sehingga gue mengurung jiwa gue sangat dalam dan membungkam suara hati gue sampai akhirnya gue frustasi sendiri. Gue khawatir dengan pendapat orang gue karna gue yang keras kepala dan tidak seperti apa yang selalu ditonjolkan lingkungan, untuk menjadi orang yang selalu baik dan disukai banyak orang. Gue menjadi orang yang beda yang gue rasa itu benar tapi ternyata gak lingkungan suka. Gue ketemu berbagai macam frustasi terhadap diri yang akhirnya bikin lelah. 

Sekian renungan malam waktu Indonesia untuk overthinking. 



Thursday, 10 September 2020

Manusia sempurna tanpa cela

aku berusaha meyakinkan diri aku untuk tidak apa untuk tidak selalu sempurna. Sebagian diri aku menghardik dan menunjuk tanpa henti seolah hidupku tidak boleh ada cacat, cela dan kesalahan. Tapi bukankah aku juga manusia biasa? bahkan untuk hal ku sukai aku melakukan kesalahan. Tapi kenapa aku takut? apa yang aku takutkan? Dunia mengkritikku, menyalahkan tanpa henti? atau memang aku yang terlalu kejam kepada diri sendiri?

Rasanya lelah dengan diri yang menyukai kesempurnaan, seolah kesalahan merupakan kegagalan yang fatal

Tapi aku inget perkataan dr jiemi, It's okay to be not okay. Kamu harus mengakui bahwa kamu bukan manusia yang sempurna. Kamu sering gagal sering jatuh. bukankah hal yang wajar? bukankah kegagalan di dunia ini sesuatu hal yang wajar? Ketika semua hal di luar kendali kamu, bukankah itu wajar?

Tapi kenapa aku masih sering memojokkan diri, menyalahkan diri sendiri ketika berbuat kesalahan meski itu hal kecil. Aku menghardik diriku yang berbuat salah, sambil pikiranku menari ria membayangkan penghakiman orang lain yang maha dahsyat kepada diriku.

*aku sembari praktek butterfly hug, memeluk erat diri sambil berkata "gapapa kalau kamu salah. orang mungkin menghardik, memojokkan dan menyalahkan sambil mencemooh kebodohanku. tapi aku berusaha untuk disini untuk diriku sendiri. karena aku berusaha mencintai diriku. meskipun aku bukan manusia sempurna, aku hanya menusia penuh cela dan kesalahan"


Monday, 31 August 2020

Searching of Happiness

Sekitar 2 tahun lalu, gue mencari definisi kebahagiaan. Tiap kali di kereta sepulang kerja atau pulang main selalu merenung. Bahkan untuk sekedar ke supermarket dan ngeliat anak kecil main bola sambil ketawa, gue bertanya "apa yang membuat mereka bahagia ya? gimana caranya ya?". suatu malem sekitar jam 11 malem di stasiun pasar minggu, ada beberapa orang masih kerja. Entah karena emang target untuk membuat underpass atau emang jam kerjanya menggunakan shift. sambil nunggu kereta gue memandangi mereka lama banget, gue berpikir "kenapa mereka mau kerja jam segini ya? gak capek? ga bahagia kan?

Tapi jalan mencari definisi kebahagiaan itu gak pernah gue temui, sampai suatu ketika di awal tahun 2020 konser Super junior SS8 di Ice BSD datang. Tanpa persiapan mau nabung dan emang gak ada niatan nonton konser, tiba2 temen kantor ngasih info ada tiket punya temennya sayang banget ga kepake dia mau jual. Setelah pikir panjang karena ga pernah nonton konser juga dan setelah dikasih tau temen cowo di kantor di umur gue sebelum menikah sebaiknya pake uang hasil kerja untuk membahagiakan diri sendiri. Setelah merenung akhirnya gue beli itu tiket dan emang jauh sih dari panggung. Gak punya temen buat nonton tapi dapet temen baru. baru pertama kali ketemu udah kayak kenal lama. Seru banget dan klik banget. Sampai akhirnya sepulang konser capek banget tapi bahagia. Lalu gue mengklaim bahwa hidup gue bahagia.

Tapi ternyata bahagia gue karena nonton konser itu fana. Kayak cuma bertahan di hari itu doang dan cuma 3 harian lah. Tapi bahagia karena ketemu idola tidak bisa membuat hari gue yang buruk atau peristiwa yang menyedihkan itu berubah. Gue tetap merasa down, bete, kesel, marah sedih, kecewa dan emosi lainnya. Gue bingung dan kehilangan arah. 

jadi apa itu bahagia?

Setelah hidup 25 tahun dan di umur 20 tahun gue mencari definisi bahagia gak pernah ketemu dan selalu salah. Ternyata definisi dan tujuan hidup gue yang salah. Gue mencari bahagia untuk hidup. Mana pernah ketemu kan? Banyak baca buku tentang psikologi juga gak kunjung membuat gue berubah memaknai bahagia. Sampai akhirnya salah satu dokter bilang "bahagia yang itu terjadi kemarin kan? bukan hari ini? kenapa kamu hidup untuk hari kemarin? kamu hidup untuk hari ini"

Drama Its okay To Not Be Okay juga ngasih gue perspektif mengenai definisi bahagia. bahwa bahagia itu berarti gue harus bisa hidup berdampingan dengan rasa sakit sedih kecewa marah atau emosi lainnya. bahagia yang sebenarnya berarti bukan menghindari rasa sakit tapi melaluinya. 

Gue sebagai manusia yang masih mencari makna dan tujuan hidup, gue masih belajar untuk menerima bahwa terkadang It's okay To Not Be Okay. Jadi akui, rasakan, temani diri kita, karena ketika kita bisa lewati itu kita akan bahagia dengan apa adanya diri kita.

Friday, 10 July 2020

Berteman Dengan Kegelapan

Entah kenapa tapi tadi malem kebangun dengan mimpi buruk. Mimpi buruknya bikin aku nangis seketika, bukan nangis kejer tapi air mata yang keluar disertai rasa degdegan di hati. Pokoknya perasaan yang gak enak banget. Lalu ketika menenangkan diri dengan kalimat "hey itu semua hanya mimpi" akhirnya aku tenang dan kembali tertidur.

Tapi setelah pagi hari, aku bangun dan bingung "kenapa ya ko tubuh kayak lelah abis nangis", sambil kerja terus isi pikiran tuh kayak benang kusut yang belum terurai sempurna. Lalu inget, ternyata tadi malem mimpi buruk. Tapi mimpi apa? ingatan akan mimpinya samar banget tapi setelah aku paksa otakku buat mengingat ternyata aku mimpi ditinggalkan dengan sebuah hubungan. Rasa takut yang menghantui diriku setiap hari ternyata mampir ke dalam mimpi. Aku mimpi punya sahabat dekat dan aku bahagia menjalani hariku, tapi ternyata sahabatku itu tertabrak mobil dan meninggal dengan tragis. Mimpinya kejam, bahkan sore tadi aku mengutuk otakku yang menjadikan kekhawatiranku menjadi sebuah mimpi buruk yang menjadikan sesak.

Tapi aku sadar, mimpi buruk dan ingatan yang tadi menghilang yang juga saat ini disertai rasa hampa ternyata sebuah alarm. Aku kelelahan secara fisik dan psikis. Akhir-akhir ini pekerjaanku memaksaku untuk 10x lebih teliti dan menuntut untuk sama sekali gak melakukan kesalahan. sedangkan pikiranku berkelana dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Secara fisik aku kelelahan, bahkan kamis kemarin aku demam, entah karena efek hormon sehingga emosiku kembali tidak stabil. Atau emang ambang lelahku udah mencapai maksimal.

pekerjaan yang banyak ditambah pikiran yang tak pernah berhenti bikin khawatir ini membuat aku hari ini merasa hampa dan kosong. Aku merasa ga semangat, lelah fisik dan gatau apa yang aku mau dan harus aku lakukan. Tapi aku tetap kerja untuk memenuhi rasa tanggung jawabku. Aku seperti zombie. Merasa hampa dan kosong tapi tetap berjalan dan beraktivitas seperti biasa.

Rasanya aneh. Aku merasa kegelapan mengambil alih lagi. Padahal setelah aku tahu bahwa depresi itu memiliki pola, harusnya bulan ini bukan bulan aku merasakan depresi. Tapi dia hadir lagi, meskipun tanpa menghakimi. Aku cuma takut dan khawatir. Tapi aku sadar bahwa ini alarm untuk diriku. Ternyata akhir akhir ini aku hanya kelelahan, kerja tanpa jeda, kesal dengan semua hal tapi hanya kubiarkan hadir dalam pikiranku. Saat ini emang lagi bulan padatnya kerjaan, karena harus bikin report semester dan monthly belum lagi kerjaan printilan yang banyak dan gak pernah habis. Rasanya semua energiku dikuras habis. Plus aku selalu di rumah waktu yang ku habiskan hampir 99.9% di dalam kamar. jelas aku merasa bosan dan hampa. Mungkin aku butuh udara bebas. Dan aku kurang olahraga tentunya, seperti kata dr Jiemi. Olahraga itu harus aku lakukan. Aku juga udah lama ga melakukan mood tracker, meluangkan waktu 5 menit untuk bernapas alias fokus dengan napas alias meditasi.

Bener kata dr Jiemi, ternyata gada cara lain selain berteman dengan kegelapan, dia bisa hadir kembali. aku gabisa langsung sembuh dengan cepet ketika dr jiemi aja butuh bertahun-tahun menerapkan midnfullness.

Alarm ini sebagai tanda bahwa aku lupa menyayangi diriku, aku fokus dengan memenuhi kewajiban, merasakan ketakutan seorang diri. Aku bahwa mencari lagi arti bahagia itu apa. Aku melupakan sesi konsul dengan dr jiemi Ardian. Atau ini waktunya aku kembali psikoterapi?

Apapun itu aku harus bisa berteman dengan kegelapan.
semangat, diriku.


Bogor
10 July 2020

Wednesday, 27 November 2019

On The Way To Broken Heart 4

Cinta itu hanya perasaan yang bisa datang dan pergi
Mencintai seseorang dan berharap dia balik mencintai hanya obsesi
Sedangkan cinta sendiri itu suci
Dan aku punya kendali atas pikiran dan hatiku
Luka itu hal yang pasti dalam tahap mencintai
Tapi kamu mampu sembuh
Percaya itu
Mari bahagia!

Sunday, 17 November 2019

On The Way To Broken Heart 2

Mencintaimu adalah kegiatanku saat ini
Merindukanmu adalah hobiku saat ini
Tapi mengecap rindu sambil melimpahi rasa cinta padamu telah mengambil alih pikiran dan batinku
Aku terluka karena merindukanmu
Aku terluka karena rasa cinta yang menggebu
Aku terluka karena dirimu
Tapi sayang kamu tak tahu itu
Benar kata orang, cinta itu memang buta
Karena aku seperti ada di labirin
Tersesat dalam kewarasanku untuk mencintaimu
Sambil berdoa semoga dirimu menjadi kisah manis dalam hidupku
Datang dan mendekatlah padaku
Biar kubisikan mantra hebat yang takkan kubagikan kepada siapapun
"Hai kamu yang disana.. aku mencintaimu dengan rasa yang tulus. Aku ingin mengarungi kehidupanku selamanya denganmu. Memegang tanganmu hingga rambutku memutih dan kerutan di kulitku. Aku ingin selamanya bersandar pada pundakmu yang kokoh. Aku ingin selamanya berlari bercanda bersamamu di pantai bersama si kecil penyemangat kita nanti. Aku ingin berdiskusi banyak hal tanpa batas waktu. Aku ingin menikmati semangkuk mie seperti yang kita lakukan di kala hujan. Aku ingin mendengarmu berkeluh kesah sambil memelukmu membuatmu nyaman dalam dekapanku. Karena aku mencintaimu"

16 November

Monday, 11 November 2019

On The Way To Broken Heart 1

Aku bergelut dengan logikaku
Tapi rasaku terlalu kuat untukmu
Ia mengambil alih alam bawah sadarku
Meski terlalu pahit tetap kurasa getir menyerang sanubari
Aku terluka rasa dan asaku padamu
Hancur berkeping
Bahkan meski ku harus bernapas sambil merindukanmu
.
.
11 November 2019

Monday, 4 November 2019

expectation kill

I think I am afraid to falling in love or marriage because of I hate if I can lose the one I love.
Someday I love a man because his brain or because he is kind to me. But always
Expectation always kills me slowly and deeply
Now I hate the way when I am falling in love
Bleeding