Aku seperti kaca pecah
Yang kau coba satukan dengan serampangan
Aku bahkan tak mampu merapikannya
mengumpulkan pecahannya saja butuh waktu
apalagi kembali utuh
aku rasa itu sulit
sometimes, we will never know the true value of a moment until it becomes a memory. So I am trying writing every moment from my experience,my mind or anything I will record every moment in this blog, Welcome ~
Aku seperti kaca pecah
Yang kau coba satukan dengan serampangan
Aku bahkan tak mampu merapikannya
mengumpulkan pecahannya saja butuh waktu
apalagi kembali utuh
aku rasa itu sulit
Mengutip lagu ben 180 degree
"Semua cinta sama aja, tapi aku kira kamu akan berbeda
Kamu dan aku sekarang sudah berubah 180 derajat
Semua pria sama aja, tapi aku kira kamu berbeda
Cintamu hanya sekedar kata-kata, berhentilah berbohong
kau tak perlu mengatakan aku mencintaimu
sekarang sudah berubah 180 derajat janji kita dahulu
bahkan alasanmu yang biasa, itu adalah dusta
apa kau tau aku sudah percaya ketulusanmu
Tapi ternyata itu hanya cinta bodohku saja
aku sudah lelah dengan semuanya
나 너를 이해하려고 별짓 다 해봤어 난
Aku telah mencoba segalanya hanya untuk memahami dirimu
내게는 너무 미운 너 그게 아픈 나
Aku sungguh membencimu, kamu membuatku begitu terluka
많이 사랑했던 나쁜 놈
Pria jahat yang begitu aku cintai
나 너를 미워하려고 별짓 다 해봤어 난
Aku sudah mencoba segalanya hanya untuk bisa membenci dirimu
너에게 미친 나 나에게 지친 너
Kau yang membuatku gila, kau yang membuatku merasa lelah
나쁜 놈 눈물로 나를 적시고 간
Pria jahat, kamu membasahi pipiku dengan air mata ini
나쁜 놈 추억에 나를 미치게 한
Pria jahat, kamu membuatku gila karena kenanganmu
아픈 널 상처가 된 널 지워보려고
Dirimu yang menyakitkan, dirimu yang telah menjadi luka untuk melupakanmu
Feels so dumb
With everything that happened, I felt like I wanted to keep running, I wanted to keep climbing but my path was winding and steep.
I feel that failure is always right in front of my eyes, so why am I always afraid to take a step?
I want to depend, I want someone to know that I'm crying alone and scared. But I don't know who to talk to.
When I feel sad, disappointed, angry, lonely all I do is pull myself away from everyone
I have tried my best, but still not working.
But right now I want to cry while depending on someone.
Akhir-akhir ini setiap bangun tidur justru lelah dan isi kepala tuh kayak penuh, masih bisa untuk cepet tidur dan gak bikin insomnia sih. Tapi rasanya kayak dalam mimpi pun aku berpikir gitu, otak aku gak berhenti buat memikirkan something. Bahkan sampe bikin buruk, mimpi kerja, mimpiin kerjaan dan bangun-bangun ngerasa ada yang tertinggal. Something wrong happen to me! Okay ini kayak alert kalau otak aku lagi berkelana, banyak mikirin banyak hal dan ga terjangkau semua, Tapi disatu sisi karena kurang self care, akhirnya aku jadi ngerasa ga mood, jadi malas melakukan sesuatu, ada sisi dari diriku yang ingin tidak produktif.
Bener kata dokter jiemi, ketika kita istirahat justru memikirkan kerjaan dan ketika kerja memikirkan istirahat. Terlebih pandemi gini bikin aku kayak cepet banget energi abisnya. padahal jelas bukan secara fisik capeknya tapi lebih ke mental.
well, karena ini alert buat diriku dan bikin tidurku ga berkualitas. Berarti ada yang harus aku ubah kan? tentunya yang bisa aku kendalikan. Let's make some activity for better quality life shalsa. Kamu akhir-akhir ini kelelahan karena mengemban banyak tanggung jawab yang bahkan gak gampang buat fokus kayak gitu. But you did it! I am so proud of you.
Pernah ada moment dalam hidupku sepenuhnya yang sangat tidak menyenangkan yang sekarang aku sadari bahwa itu karena aku seringkali jalan sendirian di terowongan gelap. Padahal siapa yang bisa jalan dengan lancar di terowongan gelap coba? Pasti ada kejadian jatuh entah itu kesandung batu kecil atau justru kita menginjak kotoran/kubangan air kan? Lalu gimana kondisinya ketika udah habis masuk ke kubangan air, nginjek kotoran, kesandung pula? Kaki kita kotor iya, berat iya, luka iya dan mungkin ada darah karena kesandung dan jatoh kan? Tapi tetep lanjut buat memaksakan jalan? Coba bayangin rasanya sakitnya gimana.
Persis kayak hidup, aku pernah di moment untuk berpikir I am fine, I am okay, rasa sakit aku gak sebanding sakit orang lain, orang lain lebih sakit. Aku gak pernah hadir untuk berempati dengan rasa sakitku sendiri. Bertahun-tahun kayak gitu dan akhirnya sampai ke titik lelah. Aku lelah sama hidupku sendiri, rasanya aku cuma pengen waktu berhenti, kenapa waktu selalu jalan terus dan gak pernah biarin aku istirahat sebentar doang? Bahkan untuk napas aja susah banget. Jangankan melangkahkan kaki yang berat banget, buat pura-pura tersenyum aja udah gak bisa. Aku jadi sering sakit fisik, asam lambung naik seiring peningkatan rasa tidak bahagia yang aku alami. Aku jadi panik attack setiap kali aku telat dateng meeting karena terjebak macet.
Dan kejadiannya itu selalu berulang, selalu ada di akhir tahun sampai awal tahun, aku gak merasa bahagia di waktu tersebut. Setiap kesalahan kecil, aku selalu jahat dan marahin diri aku sendiri. Pernah suatu hari di tahun 2018, pikiran aku udah gak bisa terbendung lagi. Jadi aku sensitif untuk hal kecil sekalipun. Saat itu memori internal hp penuh dan akhirnya aku pindahin ke SD Card dong, tapi ternyata kepenuhan dan bikin semua foto hilang seketika! Damn! Apa yang aku rasain? marah, kecewa dan benci banget diri sendiri. Karena mengambil keputusan sendiri dan ternyata salah. Rasanya aku lagi nunjuk-nunjuk diri aku sendiri tanpa empati, aku marah karena kebodohan aku. Rasanya diri aku yang jahat lagi ngomong gini "bodoh banget sih, gak liat apa kalau itu memori penuh. Ilang kan semua foto. Emang semua kenangan yang ada di foto itu bisa kembali?" Akhirnya aku nangis. Semua temen kantor bingung karena aku menangis untuk hal kecil, hanya untuk memori card dan foto yang hilang. Receh ya? Aku kalau di posisi temen aku juga akan berpikir gitu "lebay banget ini manusia".
Ada juga momen ketika aku gak bergairah ke kantor, gak bisa bahagia dan raut muka sedih. Ya sedih tapi aku gatau sebabnya apa. Pikiran aku kayak penuh banget. Lalu ada celoteh temen aku yang bilang "lah jomblo sedih karena apa? kan gak punya pacar?". Sebenernya itu konteksnya bercanda, tapi disitu aku sakit hati banget. Rasanya gak enak lagi pikiran berkecamuk tapi gak ada satupun orang yang ada sekedar duduk diam mendengarkan kita.
Di sisi lain, ada seorang teman yang juga menangis karena dijahili dan semua orang mengerubungi dia dan berempati. YES! Aku compare diri aku dengan dia, aku merasa aku gak didenger tapi kenapa dia justru ditanya-tanya? Aku makin merasa sendirian. Dan ada satu orang temen aku juga yang justru dateng melihat aku nangis dan dia bilang "ngapain sih nangis untuk hal sepele kayak gitu, tuh nangis tuh kayak si A baru boleh nangis". Disitu aku makin merasa aku sendirian. Segala perasaan aku gak divalidasi, aku marah sama lingkungan dan aku marah sama diri aku, aku bertanya-tanya kapan aku gak sensitif dan nangis ya? Kok aku jadi fragile banget kayak barang pecah belah yang di toko-toko. Fisik aku semakin drop, aku bisa nangis dan kecapean dan semakin drop. Setiap liat jalanan jakarta dan liat betapa macetnya jalanan disaat harusnya aku meeting dan HARUS segera sampai di tempat, aku semakin panik. Aku semakin gelisah dan maag aku kambuh. Ya kalian gak salah baca kok kata harus aku capslock dan bold, karena itu yang aku katakan ke diri aku. aku mewajibkan banyak hal ke diri aku. Aku harus kuat, aku harus sehat, aku harus bisa, aku gak boleh gugup, presentasi ini harus lancar, aku harus sampai tepat waktu. Lalu aku marah sama hal yang gak bisa aku ubah. Kenapa sih jalanan bisa macet? Faktanya jalanan jakarta memang hal biasa kan macet? Tapi ada kalimat lain di pikiran aku. Kenapa sih aku salah ambil jalan, kenapa sih aku gak dateng lebih pagi lagi. Selain kata harus banyak juga kata kenapa yang aku sering tanyain ke diri sendiri. Semakin hari semakin parah. Aku bahkan karena panic attack sesampainya tempat meeting ke toilet cuma buat muntah, aku bahkan pergi dulu cari obat maag di warung terdekat. Rasanya gak enak, sedangkan aku harus menyelesaikan presentasi ke client dengan lancar.
Apakah gejala fisiknya cuma itu, nope tentu saja. Aku bahkan gabisa tidur dengan nyenyak. Aku tidur dengan pasang headset dengerin brainwave atau music to sleep. Kadang works tapi lebih seringnya enggak. Aku insomnia. Aku bahkan pernah ke kantor dalam keadaan gak tidur sama sekali. Bukan begadang yang tidur diri hari, tapi emang gak tidur sampai pagi. Pikiran aku berisik banget, gak mau diem, tapi aku gak tau pikiran aku ngomong apa. Rasanya aku pengen segera ke apotek buat beli obat tidur. Tapi tentu aja aku gaboleh bergantung sama obat ketika gabisa tidur kan?
Karena atas luka dan rasa sakit aku yang "dianggap sepele" ini gak digubris dan mendapatkan empati dari lingkungan sekitar, aku semakin diem dan gak membagi segala penatnya pikiran ini ke siapapun, aku melajutkan perjalananku sendirian di terowongan gelap dalam kondisi celana kotor dan penuh luka karena terjatuh. Akhirnya aku cuma bisa duduk di jalanan dan merasa bahwa aku lelah dan mau menghilang dari dunia ini. Pikiranku saat itu, bagaimana caranya pergi menghilang dari dunia ini tanpa rasa sakit? Bagaimana caranya agar aku tenang? Bagaimana caranya aku gak merasa sakit dan penat lagi? Bagaimana rasanya aku bisa tidur dengan nyenyak lagi? Bagaimana caranya meredam pikiran aku yang berisik ini?
Aku gak pernah menemukan jawabannya, sampai suatu ketika ada salah satu sahabat aku di blognya yang pernah mengalami hal yang sama. Aku coba chat dan dia bilang mungkin itu karena quarter life crisis belum lagi kondisi lingkungan yang toxic dan pikiran berkecamuk, itu wajar. Sampai aku bilang aku capek sama hidup aku, rasanya mau menghilang aja. Dan dia cuma bales "kita ketemu yuk". Aku cuma bisa nangis baca chatnya. Karena ada orang yang mau meluangkan waktu cuma buat aku di saat dia pun sibuk dengan hidupnya, dan dia pun pasti sibuk dengan pikiran dan masalahnya.
Aku Mungkin memilih berjalan di terowongan seorang diri, tapi ketika aku terjatuh ada satu orang di depan sana yang ngasih lampu senter dan nunggu aku. Rasanya bersyukur punya satu orang yang hadir untuk bisa berbagi rasa sakit.
Tapi aku belajar satu hal bahwa Sedih dan luka itu valid, hanya karena tidak terlihat bukan berarti sedih dan luka itu gak sakit. Jangan sama ratakan sedih dan luka setiap orang. Karena tentunya akan berbeda.
Last June
Setelah nonton Hospital Playlist 2, rasanya hati tuh adem dan sekaligus dibikin bahagia terutama atas kehadiran Ikjun yang gak pernah berhenti menghibur. Tapi kali ini ada perasaan yang beda ketika nonton drama itu. Sosok Song Hwa bener-bener terlihat jelas kalau dia menguasai tahap Self love. Song Hwa yang capek hampir seharian di ruang operasi, Song hwa yang koyoan, Song Hwa yang istirahat sebentar di sofa, dan Song Hwa yang bahagia kayak anak kecil setelah makan sepotong kue. Lalu aku menemukan thread dari Season 1 yang bilang Song Hwa dan Pentingnya Self Love. Tahun lalu, aku ga ngeh kalau yang dia lakukan itu full of service buat dirinya sendiri, bentuk dari cara self care dan self love.
Sekarang aku jadi mikir bahagia itu bukan berasal dari hal besar, tapi hal kecil yang bahkan gak pernah kita sadari kalau itu bikin bahagia.
Song hwa tau caranya memperlakukan dirinya dengan baik, tau caranya untuk sekedar dating dengan dirinya sendiri dengan camping dan menyatu dengan alam, atau sekedar istirahat karena lelahnya bekerja, tapi hal yang terjadi di sekitarnya gak membuat mood dia gak stabil atau jadi mudah marah/jengkel. The power of self love!
Lalu aku menemukan foto capture-an dari book judulnya An Apology Letter to My Self. Setelah baca ini, tiba-tiba air mata jatuh dan merasa jahat banget ke diri sendiri. Mungkin aku kesepian, karena aku gak pernah menghidupkan diriku, aku kira aku independent tapi secara emosi aku bergantung, aku terngiang akan janji kebahagiaan yang dikasih orang lain terhadap aku- yang mana itu adalah salah karena gada satupun orang yang bisa membuat kita bahagia kalau diri kita gak bahagia duluan. Atau moment mendahuluan orang lain, memperhatikan orang lain padahal diri ini pun butuh perhatian. Kalimat yang paling membekas "Life isn't about pleasing other people. Life is about living. Doing makes me happy".
Aku lagi baca buku kisah Oprah Winfrey, aku dapat buku ini dari seorang teman yang baik yang aku kenal baru banget, tapi dengan hati besarnya dia bersedia mendengarkan aku tanpa judging. Seorang teman yang baik, dia tidak berlari meninggalkan ketika kita terjatuh. Tapi dia berhenti dan menanti kita untuk bangkit. Dia seperti itu, dan aku bersyukur bisa bertemu dia dari sekian banyak manusia di bumi. Setelah pertemuan itu, aku berdoa semoga dia mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian seperti yang dia harapkan juga dari aku.
Balik lagi ke buku Oprah Winfrey yang judulnya What I Know For Sure, ada bab Connection. Oprah disini cerita bahwa dia pernah wawancara 7 laki-laki tapi memiliki kesamaan yaitu mereka selingkuh dari istri mereka. Ternyata hal yang mendasari mereka selingkuh adalah mereka rindu untuk dibutuhkan, didengar sehingga mereka mencari validasi dalam bentuk apapun agar mereka dapatkan hal itu. Meski itu artinya mereka menghadirkan orang ketiga.
Oprah bilang dalam bukunya, pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan yang sama yaitu sama-sama ingin dihargai. Siapapun kita, apapun latar belakang kita, setiap dari kita pada dasarnya memang rindu dicintai, dibutuhkan, dimengerti, diapresiasi agar merasa lebih hidup dan lebih manusiawi.
Tapi sayangnya kita sering mencari yang kita butuhkan itu dari orang lain, didengarkan, dibutuhkan, dimengerti, diapresiasi dsb. Tapi sebenarnya cinta dan approval itu gak bisa kita temukan dari luar, melainkan dari dalam diri. Mungkin kita bisa mendapatkan hal tersebut dari orang lain, tapi diri kita akan merasa ga pernah cukup.
Ketika kita merasa kurang hidup, bosan, merasa kurang intim dengan orang lain entah itu pasangan atau siapapun. Hal itu menunjukkan ada ketidakpedulian terhadap diri sendiri.
Persis kata Oprah Winfrey dalam bukunya
"if you’re looking for someone to heal and complete you—to shush that voice inside you that has always whispered You’re not worth anything—you are wasting your time. Why? Because if you don’t already know that you have worth, there’s nothing your friends, your family, or your mate can say that will completely convince you of that."
Jika kita mencari apa yang kita butuhkan dari orang lain, atau jika kita menyimpan luka dan kita berharap orang lain untuk menyembuhkan dan melengkapi kita. Semua itu gak akan pernah cukup.
Kalau kata Oprah sih, Sang Pencipta udah memberikan kita tanggung jawab penuh terhadap hidup kita dan hak istimewa agar kita kuat dan mampu untuk memberikan diri kita kasih sayang, cinta dan intimacy yang bahkan belum pernah kita dapatkan sebagai manusia.
Jadi kita sebagai manusia memang punya pilihan untuk terus maju dalam memberikan cinta kepada diri sendiri. Jangan menyesali masalalu karena tidak pernah mendapatkan cinta dari orang lain entah itu pasangan atau orang tua. Kita memang pantas mendapatkan cinta tapi kita bisa memberikan cinta itu kepada diri sendiri.
Look inward—the loving begins with you.
Suatu ketika aku liat satu video dari TED tentang memaafkan. Speakernya bilang gini
"So why do it? why forgive? It can't heal you. It won't save you or the other person. It can't make you a good person, at least not all by itself. Because that's not what forgiveness is designed to do. Forgiveness is designed to set you free. When you say 'I forgive you' what you're really saying is 'I know what you did. It's not okay. But I recognize that you are more than that. I don't wanna hold us captive to this thing anymore. I can heal my self and i dont need anything from you"
Ada suatu diskusi dengan salah satu mentor aku mengenai aku yang overthinking dan mudahnya aku terluka karna perilaku/perkataan orang lain. Rasanya sakit ya ketika kita kecewa atas perlakuan/perkataan orang lain padahal kita udah berusaha yang terbaik untuk orang lain. Kita menjaga perkataan dan perbuataan kita, tapi kenapa kecewa selalu mampir dan menyapa. Tiap kali kecewa, helaan napas panjang selalu bikin air mata turun dan jadi feel sorry sama diri sendiri gak sih? Kok rasanya udah jahat ya ke diri sendiri. Kadang ada moment ingin membahagiakan orang lain sampai akhirnya perasaan diri sendiri diabaikan. Tapi ketika perasaan kita komplain dan pengen ngasih kode kalau diri merasa terluka, diri ini yang kadang lupa untuk ngasih waktu mendengarkan perasaaan yang keluar.
Dan ketika kecewa karena orang lain menyakiti hati kita, rasanya berat buat sekedar memaafkan. Karena ada mode menyelamatkan diri dan otak kita sering kali waswas dan hati-hati agar hati kita yang udah cukup fragile ini gak tersakiti dua kali. Tapi ternyata itu gak akan pernah membawa kedamaian buat diri sendiri ya?
Persis kata Alex
"To those who have hurt you, splintered your heart, made you feel small, and rejected you—offer them mercy so that you can learn what true freedom feels like. Gripping on to grudges wastes time and energy. It will distract you from being your best self"
Maafkan orang-orang yang telah menyakiti, yang telah buat hati sakit atau menangis tiap malam. Bukan buat orang tersebut tapi buat diri ini. Karena diri ini layak untuk bebas melepas rasa tidak nyaman, bukan?
Kita berjalan dengan start yang sama, dengan keegoisan yang serupa, dan dengan pengalaman menyakitkan yang serupa. Lalu kita berjalan tanpa bergandengan tangan, karena berpikir kita mampu menghadapi ini sendirian. Karna kita terbiasa mengatasi segala masalah yang datang sendirian, tanpa ada yang mendampingi. Tapi kesombongan itu membawa kita ke dua jalan berbeda, kita dihadapkan pada dua jalan dan kita tidak menyadari bahwa kita saat ini sedang berada di jalan yang terpisah, kita berjalan sendiri-sendiri, jangankan untuk bergandengan tangan, bertegur sapa karna tak saling melihat aja sudah suatu hal yang patut disyukuri. Tapi kita tetap dengan kesombongan dan keegoisan berjalan di jalan yang berbeda.
Ada moment aku merindukan kamu yang masih bisa aku sentuh, yang masih bisa aku sapa dan lihat meski dari jauh.
Tapi meski kita di jalan yang berbeda, bukan berarti kamu tidak pernah menyapa aku, aku sering menyapa aku, atau meneriakkan namaku. Tapi aku tetap kesepian, karena memang kamu tidak disampingku, karena kita ada di dua jalan yang berbeda.
Tapi apakah mungkin kita bisa ketemu di satu jalan yang sama? Ataukah kita tetap ingin di jalan berbeda dan terus berjarak?
Sebagai manusia pada akhirnya ketika menemukan bad happen in life harus mencapai satu titik memaafkan dan ikhlas ya. Meski bad happen in life itu rasanya nyakitin dan menggores luka lama apalagi kalau bersinggungan dengan trauma yang masih diingat jelas tubuh dan otak kita. Rasanya hancur bisa berkali-kali lipat sakitnya.
Kadang ada moment gue membenci pikiran gue yang overthinking, sedangkan overthinking ini mengakibatkan suatu kejadian nyata yang memang dialami, hal yang dikhawatirkan terjadi, hal yang ditakutkan bener-bener ada depan mata. Kayak niat hati buat melindungi hati biar ga terlalu sakit, tapi akhirnya sakit juga because of the truth.
Tapi dari hal tersebut ada pikiran yang muncul, yang judging dan jahat banget ke diri sendiri
"kan, itulah gue benci otak gue, gue benci banget gue yg terlalu intuitif dan bisa menganalisis segala macam hal. Bisa ga sih lu diem aja, gausah sok-sok-an overthinking. kalau kejadian gimana? Seolah lu bisa melindungi hati dengan lu memprediksi masa depan gtu?"
Akhirnya, malah jadi benci diri sendiri. sedih ga sih? Kayak dunia udah segitu pahitnya dan banyak yang pointed you gitu. Tapi diri lu ikutan sejahat itu sama lu. kejam ga sih?
Akhirnya gue sadar, ah gue terlalu jahat ternyata sama diri sendiri
Yuk semangat self untuk lebih menumbuhkan cinta ke diri sendiri