Sunday, 17 April 2022

Selembar kertas putih

Selembar kertas putih yang terkena tinta hitam akan terlihat tidak sempurna, yang terlihat bercak tinta hitam yang mengotori bagian kertas putih itu
Kamu seperti itu yang ku lihat
Tapi saat ini aku ingin berjalan sambil melihat bagian putih bersih itu
Bukan berarti bercak tinta hitam itu hilang seiring berjalannya waktu
Tapi aku ingin percaya bagian putihmu lebih besar dibandingkan bercak tinta hitam itu
Aku ingin percaya bahwa mempercayaimu dan mencintamu bukan hal yang sia-sia
Aku ingin percaya bahwa tak ada lagi seseorang yang memasuki rumah kita

Saturday, 16 April 2022

Ternyata Hanya Kamu

Aku mau percaya tatapan penuh dengan air mata itu
Aku juga mau percaya genggaman tangan kamu yang meminta aku untuk tak pergi
Aku juga mau percaya kalimat cinta kamu
Aku mau percaya kecupan sayang di dahi yang kamu kasih
Memang aku gabisa putar waktu dan berharap kamu yang kemarin tak pernah menyakiti
Tapi nasi udah jadi bubur
Tapi aku ingin percaya perubahan kamu itu bukan hal yang fana
Aku ingin percaya genggaman kamu kembali kuat meski banyak godaan di luar sana
Aku ingin kembali percaya bahwa bersandar padamu tidak akan membuatku kembali jatuh
Aku lelah membenahi kekacauan dan luka akibat perbuatanmu
Tapi rasanya memang Tuhan memberikan rasa sakit untuk membuat aku sadar bahwa mencintai kamu harus melibatkanNya
Aku bahagia berjalan sama kamu
Aku bahagia berbincang hal penting sampai tak penting
Aku bahagia melihat kamu mencapai sedikit demi sedikit keberhasilan dalam hidup
Aku bahagia lihat kamu bahagia
Aku bahagia dengan setiap pesan sapaan pagi hari, telepon siang bahkan malam hari darimu
Aku bahagia setiap kali kamu duduk di samping aku
Aku bahagia dengan kejujuran kata-katamu
Aku bahagia hanya jika aku satu satunya, bukan salah satunya
Bisakah aku kembali percaya dan bahagia bersamamu?

Monday, 11 April 2022

Scent Of memory

"Kita ga pernah tau seseorang terasa berharga sampai orang itu pergi dari hidup kita"

Aku rasa itu ungkapan yang gak relate sama aku. Karena tanpa dia pergipun aku merasa dia orang paling berharga. Hari hari sama dia walaupun ada aja perasaan kesel, dongkol, emosi, kecewa marah dsb aku tetep merasa dia sosok penting dan sangat berharga.

Kenangan penuh kenangan sering aku recall dan kebaikan dia, romantisnya dia selalu jadi redaman setiap emosi aku. He's so kind that why I love him. Gak ada satu hari pun yang bikin aku terus jatuh cinta sama dia. Tapi faktanya, jatuh cinta itu karena disebabkan adanya investasi. Karena kita terus menerus investasi dalam hubungan, makanya kita terus menerus jatuh cinta. Aku suka bertanya-tanya, apakah dia sama kayak gitu juga?

Tak perlu setangkai bunga, bahkan semangkuk es krim membuat aku jatuh cinta sama dia. Meski aku selalu meminta bunga, ternyata dikasih bunga atas permintaan maaf menyakitkan ya. I never ask for flowers again. 

Kalau ada pertanyaan, apa yang membuat aku jatuh cinta sama dia. Jawabannya konsistensi. Konsistennya dia membuat aku jatuh cinta, orang yang menghubungi aku sebelum memulai hari, orang yang inget aku di siang hari, orang yang inget aku di malam hari. Lalu ketika konsistennya dia berkurang dan membuat aku jadi sosok "demanding" walaupun ada suatu "instinct" aku merasa bahwa aku harus lebih perhatian karena dia pasti sibuk. Aku redam lagi kebutuhan aku, karena akupun sibuk dan dia juga. Setiap hari, egoku meminta aku buat terus demanding, di saat itu aku menghakimi diri aku buat terus memaafkan dan memaklumi dia. Sampai aku tau, pikirannya teralihkan bukan buat kerjaan bukan buat keluarga tapi buat orang lain. Ada yang dia terus kontak di pagi hari bahkan sebelum kontak aku dan itu menyakitkan. Fakta memudarkan semua pemakluman yang aku berikan. Tapi nahasnya, membuat aku jadi cewek demanding di mata dia, saat ini.

Seandainya dia tau perilaku dia itu kayak ketika melempar batu ke laut. Memang cuma "melempar batu", tapi gatau "efek" dari melempar batu dan seberapa "dalam" batu itu masuk kan? 

Menurut dia semua karena overthinking aku yang bermasalah, tapi bagaimana ini bermula?
Jatuh cintanya aku ke dia membuat aku ingin selalu "do the best" buat dia. Aku suka momen aku belajar masak ke mamahnya, aku suka momen merawat dia atau sekedar ambilin dia makan. Aku suka dia dengan lahapnya makan makanan aku, pokoknya melakukan banyak hal sama dia meski bukan fancy things I love that! Tapi aku jadi merasa aku melakukan hal yang sia-sia. Aku bahkan sering googling bagaimana caranya menyenangkan pasangan, semua itu karena aku di masa lalu sering berantem dan ga mudah appreciate pasangan. Tapi karena aku ingin serius sama dia, aku ingin dia stay aku terus belajar bahkan semudah appreciate dia bilang thank you. Sesibuk apapun aku, mendengarkan cerita dia itu membuat aku candu. Semata-mata karna aku ingin dia stay dan tetep pada satu hati persis lagu noah yang dia kasih waktu itu.
Tapi percayalah, mau kamu kasih dunia, mau kamu kasih apapun milik kamu seutuhnya itu diluar kuasa kamu buat bikin orang buat "stay", dia akan "stay" kalau memang mau "stay", dia akan "faithful" kalau memang mau "faithful". Karena pasangan itu orang dewasa yang udah bisa berpikir maunya dia apa, tanpa perlu dikontrol

Katanya, pilihlah orang yang bisa terus diajak ngobrol kalau buat menikah. Dia begitu makanya aku suka, dibalik kekurangan dia karena aku tau manusia gak ada yang sempurna, aku suka buat terus ngobrol sama dia. Bahkan dengan duduk di angkringan, merasakan angin semilir. Banyaknya ngobrol kita ternyata masih aja ada yang kurang, kita masih belum bisa ngobrol dari hati ke hati, menelanjangi diri dan merasa fragile satu sama lain, itu sebabnya bonding kurang kuat sampai ada yang masuk yang akhirnya bikin aku bingung. Apa yang salah? Apa yang kurang ? Apa yang harus diperbaiki?

Aku pernah ditanya sama adik, batasan apa yang kalau dilanggar oleh pasangan membuat aku feel enough dan pertanda berakhir, aku jawab kdrt dan selingkuh. Karena 2 hal itu terlalu merusak aku luar dalam dan gatau bagaimana hidup penuh dengan trauma.

Tapi seperti surat di ulang tahunku tahun lalu, doa kamu terkabul. Hidup aku menyenangkan ternyata bareng kamu. Itu yang membuat aku mensyukuri banyak hal tentang kamu dan hadirnya kamu di hidup aku. Aku masih terus melihat usaha kamu membalikan kepercayaan yang udah hancur berkeping, tapi dibalik banyak tuntutan aku, kamu adalah hal yang aku syukuri. 

Sunday, 10 April 2022

Di Waktu Yang Tepat

Ada momen aku suka recall aku pernah punya keinginan apa aja ya yang di usia 27 ini akhirnya tercapai. Dan akhir-akhir ini kepikiran. Ada satu hal yang dulu cuma sekelebat omongan biasa tapi malah tercapai sekarang. Simple tapi bermakna
Waktu semester 4 - 7 di kuliah dulu, aku sama sekali ga pacaran. Setelah putus diselingkuhin di semester 3, dari semester 4 aku fokus growing. Apa itu bucin ke orang? Nay! Bener-bener melakukan apapun yang aku suka, aku berpikir aku gamau cuma melakukan kegiatan-kegiatan di kampus doang, membosankan. Aku gak suka ada di kolam kecil, aku lebih suka di kolam besar dan ketemu orang-orang hebat. Menurut aku, daripada aku jadi ikan besar dalam kolam kecil, aku lebih baik jadi ikan kecil dalam kolam besar, karena di sana aku bisa tumbuh besar. Aku ngerada butuh dunia baru, aku butuh ketemu orang baru yang bikin aku punya circle baru. Akhirnya aku ketemu dan melalui korpus ipb dimana aku disana jadi reporter dan menjabat pimpinan produksi, aku diundang liputan6.com berkali-kali. Happy banget!

Aku pernah diajak ke ruang redaksi dan ngobrol sama kepala redaksinya bahkan dikenalin sama news anchor ganteng banget. Tapi karena mukanya paripurna banget jadi ampe amnesia nama dan wajahnya itu kayak apa. Tapi yang pasti ganteng banget. Meski introvert, aku suka ngobrol sama orang-orang terutama yang punya posisi wkwkwk tujuannya sih emang networking. Pokoknya tujuannya adalah harus jadi anak paling aktif. Lalu ada undangan lagi, buat ke Terminal 3 soekarno hatta. Saat itu terminal 3 baru selesai proses pembangunnan dan belum dibuka. Tapi udah icip suasana terminal 3. Pergi naik bus liputan 6 dan pulang naik bus. Itu pengalaman terseru sih. Aku ngajak Nisa sahabat di kampus dan Keket seorang fotografer. 
Sebenernya disana aku cuma diminta liputan fashion show, gak dibayar memang (soalnya bukan pers profesional, tapi pers kampus doang) Tapi dikasih makan dan yang utama dikasih pengalaman berharga. But its okay, Iam happy! Disana kenalan sama orang-orang dan foto-foto tjakep. Cuma bisa foto siluet sambil mikir mau bikin caption "Bandara dan udara memisahkan new york dan jakarta" ala cinta dan rangga. Dan di saat foto-foto itu, aku ngeliat pesawat yang lagi parkir, persis di moment foto ini diambil. 
Aku ngomong dalem hati "pengen deh pergi naik pesawat untuk pertama kali, tapi buat bertugas dan itu dibayarin" wkwkwk simple ya? Karena memang dulu bercita-cita jadi wartawan yang bisa pergi kemanapun buat ngobrol sama orang, dapet insight dan nulis berita. Tapi terhalang restu ibu jadi voila aku sekarang digital marketer yang juga sempet pergi buat bertugas naik pesawat wkwkw.
Di tahun 2018 sempet juga ada rencana pergi ke korea buat liburan naik pesawat. Tapi ada kondisi yang gak memungkinkan di rumah yang bikin harus menunda dan sabar. Keinginan naik pesawatnya harus tertunda dan dikabulin sama Allah tanggal 29 Maret kemarin buat terbang ke Solo. Gak lama sih memang karena emang buat bertugas. Tapi ketika lagi recall dan curhat sama adek, kayak such crazy dan amazed aja sama keajaiban doa dalam hati. Bener loh ternyata Allah akan mengabulkan permintaan hambanya di waktu yang tepat. 

Selalu ada pertama kali dalam hidup, dan ya aku pertama kali naik pesawat meski masih pesawat kelas ekonomi dan itu dibayarin. Tapi aku percaya suatu saat aku akan naik yang business *mimpi aja dulu ye kan.
Dan pertama kali merasa take off sampe degdegan takut mati. Funny things sih. Dan Alhamdulillah~ Allah kasih kesempatan lewat cara-cara unik yang sesungguhnya ini tahu bulat bahkan buat kerjaan doang. Tapi aku sih seneng dapet pengalaman baru
Trus aku coba recall lagi bareng adek, apa yang sebenernya sempet jadi list impian lucu-lucuan, tapi terkabul. Salah satunya macbook. Dulu sempet amazed kalau liat orang meeting dan kerja di starbuck bawa macbook. Dan aku merasakannya juga. Beli pake uang sendiri buat bikin happy diri sendiri.

Trus beli mobil, pake uang sendiri meski itu buat ibu. Trus aku pernah juga pengen kerja di perusahaan internasional yang buildingnya besar disana bisa ngomong campur-campur. Masuk liftnya tuh ga semudah itu pokoknya kayak miss independent gitu, eh 2020 tercapai dong. Tapi aku merasa bahwa gak ada yang gak mungkin dalam hidup kalau kita banyak berusaha dan berdoa. Karena pasti akan dikabulkan tapi di waktu yang tepat.

Aku semakin yakin bahwa nanti keinginan terbang ke korea juga akan terkabul. Mungkin gak sekarang, karena uangnya dipakr buat hal lain. Mungkin nanti, mungkin ketika liburan bareng anak. Pokoknya aku percaya sdmua mimpi aku akan terkabul bahkan ketika kita lupa kalau kita pernah mimpi itu. Percaya aja tangan-tangannya Allah dan ketika itu baik, ketika jalan kita lurus lempeng, semesta pasti mendukung. Pasti satu persatu mimpi akan tercapai dan selalu ada pertama kali dalam hidup. Percaya aja. Just wait your time to shine :)

Moving On

I found this beautiful word
"Moving on takes commitment and a lot of mental effort. The most important step to letting go and moving on tentunya memaafkan dan mengikhlaskan. Kalau masih sulit mengikhlaskan, coba make a list of reasons why you're still feeling the way you're feeling right now. Kenapa masih gak terima, kenapa masih sulit memaafkan, kenapa masih berat melepaskan? Its okay to not be okay. "

Cuma sering denger kalau ikhlas itu tahapan di atas setelah sabar dan banyak yang sulit. Ikhlas dan memaafkan itu 2 hal yang berjalan beriringan. Karena kalau udah ikhlas berarti udah maafin. Sekarang baru sadar ternyata ikhlas tuh susah banget ya. 
Sampe kepikiran, hati aku busukkah sampe buat maafin dan ikhlas tuh sulitnya bukan kepalang. Rasanya kayak dikoyak-koyak. Isi kepala serimg berisik, sering mengalami ketidakstabilan emosi yang mana beberapa taun kemarin udah stabil loh.

 Mempersiapkan diri buat ke jenjang pernikahan biar lebih waras dan emosi yang stabil, melakukan banyak kegiatan yang biar moodnya gak naik turun kayak roller coaster. Nah ini damn, kesel juga, berasa usaha sia-sia. Eh tpi gak ada yang namanya sia-sia. Sempet kepikiran bahwa, ternyata nih dihantem masalam yang bikin hati dan pikiran berantakan itu punya tujuan yang baik, biar jadi manusia utuh yang terus bertumbuh. Damn tapi sakit cuy, emosi terus lama-lama dan itu kesel. Bahagia tapi kesel, seneng tapi kesel, diem tapi kesel. Gitu aja terus. Bener-bener sekumpulan emosi yang puncaknya adalah rasa marah. 

Sekarang dihadapkan untuk questioning ke diri sendiri apakah aku punya track record untuk memaafkan orang lain dengan mudah? Apakah aku bisa semudah itu ikhlas? Bagaimana caranya ikhlas dan memaafkan?
Mau googling sampe jari jari pegel pun gak ketemu jawabannya. Mencari alasan ikhlas dan memaafkan itu susahnya minta ampun. Rasanya pengen banget reset isi memori di otak biar lupa aja lupa. Pengen banget bersihin hati biar plong aja gitu. Jadi bahagia lagi. But I am not. Susah setengah mampus. 

Gue jadi mempertanyakan, orang yang melakukan salah isi otaknya apa ya? Mikir ga ya, kalau kata maaf yang diucapkan mudah itu gak segampang balikin memori ke sebelum kesalahan dibuat? Atau efek setelah perbuatannya itu kayak gimana gitu ya. Tapi again, ini pikiran victim yang masih full of anger. Hahaha I am like a devil sekali disini. 

Ya Tuhan Ya Allah ga sanggup bikin diri sendiri buat ikhlas tuh, tolong bantu. Jadi inget kata dr jiemi, fokus sama apa yang bisa kita kontrol, bukan orang lain. Biar kamu gak kelelahan.
Karena aku sama sekali gabisa kontrol orang lain, gabisa 24 jam check sana sini dan memaksa orang buat keep faithful dan stay, akhirnya ku putuskan setiap malem pasti selalu doa "tolong bantu aku buat memaafkan, buat berlapang dada, buat aku ikhlas. Aku tau aku cuma manusia sombong yang ingin mengontrol semua hal yang terjadi padaku. Tapi please, bantu aku maafin, ikhlas dan lupa. Bantu aku jadi pribadi baru dan baik. Dan tolong dekatkan dia kalau memang jodohku. Tapi jauhkan dia, sejauh mungkin dan jangan sampe pernah ketemu lagi kalau memang bukan. Kalau memang dia jodohku, bantu jaga mata, hati, telinga, mulut dan diri dia, karena cuma Engkau Maha Pembolak balik hati. Bantu dia sadar tiap mau melakukan sesuatu. Bantu dia menghargai yang dia miliki. Aamiin"

Mungkin semua ini soal waktu dan komitmen. Komitmen dan tekad yang kuat buat ketenangan jiwa aku. Harus memfokuskan ke diri sendiri lagi. Memaafkan dan mengikhlaskan itu bukan buat orang yang berbuat salah. Tapi buat diri sendiri agar hidup penuh dengan ketenangan. Agar mencapai titik kebahagiaan.

Saturday, 9 April 2022

Belajar mindful dari cuci piring

Beberapa hari terakhir ada kondisi marah sampai muak dan gejolak roller coaster emosi yang tak biasa. Semua muaranya sih karena capek. Capek kerja dan capek compare "aku udah melakukan A, kok kamu ga melakukan A to Z sih yang kamu janjikan". Fokusnya kemarin adalah bukan diri sendiri tapi orang lain. Sampai ke titik ruminasi thinking. I am tired.

Karena itulah jadi ngajak ribut orang lain, kebiasaan gue adalah trying to stab other that hurting me before to see that they hurting me. Dan itu diucapkan dengan kata-kata tanpa memikirkan tanggapan orang tersebut. Karena intinya emang lagi di titik capek aja sama hidup. Capek kerja, tapi harus tetep freelance buat sampe ke masa depan yang diimpikan. Tapi masih sakit hati dan membayangkan sekejam rasa sskit yang ditimbulkan di saat gue udah capek kerja dan rela tutup laptop malem bahkan mengurangi jam fangirling, waktu nonton drakor aja berkurang. Dan itu melelahkan. Overthinking yes memang gue overthinking tapi overthinking ini kan akibat tingkah laku menyakitkan di masa lalu. 

Dan beberapa hari kemarin, berhenti untuk ada di social media, berhenti untuk mengungkapkan isi pikiran lewat status media social, berhenti untuk berharap lewat manusia. Karena titik lelah dan gak percaya sama manusia. Di waktu ini gue justru cuma menghabiskan waktu untuk kerja, belajar, nangis dan doa. Berusaha hadir buat diri gue sendiri, memvalidasi segala emosi negatif dan pikiran bahwa perasaan gue valid meskipun udah menyskiti orang lain, tapi rasa sakit gue valid meski orang lain tidak memvalidasi. Lalu sujud malam buat cerita bahwa gue lagi gak baik-baik aja dan kasih jawaban agar gue bisa memilih jalan hidup yang gak menyengsarakan. 

Lalu gue cuci piring tiap malem sekitar jam 8 atau jam 9 malem. Gue inget marissa anita pernah bilang being mindful itu ga harus duduk diem sambil merem. Tapi dengan nyapu atau ngepel bahkan cuci piring. Dsn voila gue melakukannya. Gue hanya perlu menyadari bahwa perasaan negatif ini karena rasa trauma dan seeking other validation, tapi karena gak dapet akhirnya jadi rese. Dan cukup dengan divalidasi dengan diri sendiri.
Beberapa hari terakhir juga emosi cukup stabil, gue jadi berpikir mau hapus dan deactive social media agar jadi waras lagi. Terlalu penuh melihat apa yang orang lain capai, apa yang orang lain lagi rasakan, apa yang orang lain lagi cari. Tapi lupa sama diri sendiri.

Di saat cuci piring, pikiran gue jadi lebih tenang. Ternyata gue bisa melihat isi pikiran gue tanpa harus distrack mereka sesuai apa yang mau gue pikirin. Di saat cuci piring ini gue pun tau apa aja yang mau gue lakukan. Akhirnya selesai cuci piring, gue coba maskeran lagi, perawatan muka bukan untuk dia atau agar jadi lebih cantik demi dia, tapi buat gue. Lalu gue kerja dan tidur pake aromatherapy. Gue pake make up, melakukan apa yang ingin gue lakukan. Dan gue gak lagi menunggu kapan dia online, kapan dia pulang, kapan dia ada waktu buat kontak gue. Gue menyadari satu hal, mencintai orang lain bisa bikin kita jadi hilang fokus dan lebih fokus ke arah hubungan dan orang tersebut. Bukan lagi tentang diri kita. Jadi membuat diri kita kosong. 

Pesan aku ke diri sendiri 
"Sebelum menjalin hubungan, kamu belajar banyak hal, punya banyak kegiatan menyenangkan yang kamu lakukan sendiri. Kamu self love. Kamu mencari diri kamu. Meski saat ini menjalin hubungan, jangan berhenti mencari dan melakukan yang terbaik buat diri sendiri. Memperbaiki hubungan dengan pasangan itu baik, growing dengan pasangan itu baik. Tapi growing untuk diri sendiri itu penting. Jangan lupa self love ya ❤"

Lelaki Sejati


Katanya laki-laki itu harus kuat, laki-laki itu gak boleh nangis, laki-laki itu gaboleh lemah.
Apalagi muncul istilah toxic masculity, ketika laki-laki gak A berarti ga "laki", kalau laki-laki lemah berarti gak "laki". Akhirnya membentuk bahwa laki-laki itu harus kuat untuk menjadikan mereka sebagai laki-laki sejati. Tapi emang laki-laki sejati itu kayak apa?
Bagi gue, definisi laki-laki sejati dan laki-laki kuat adalah yang gak mudah menyakiti wanita apalagi dengan sengaja. Bukan yang dengan mudah berkata-kata manis tapi penuh tipu daya, justru pria sejati akan hadir dengan versi terbaiknya bukan dengan janji manisnya.

Apalagi jaman sekarang, banyak pria yang datang menawarkan janji komitmen dan menikah. Pria yang ngajak serius bukan berarti gak baik, tapi liat dulu deh jangan gampang kemakan janji komitmen apalagi menikah. Jangan sampe nikah yang merupakan ibadah seumur hidup malah bikin kita nyesel karena merasa menderita dan salah langkah karena memilih orang yang salah, karena itu berarti masuk neraka seumur hidup.

Bagi gue, gue perlu menikahi pria yang gue hormati dan gue percayai bukan cuma berdasarkan cinta. Kepikiran gak sih? Karna cinta gak akan bertahan selamanya? Akan ada rasa bosan dalam hubungan tentunya, makanya kenapa harus terus disiram biar ga mati. Dan "siram" itu bentuk kata kerja, berarti dua orang itu harus saling usaha buat saling menyirami satu sama lain. Gue perlu menikahi pria yang bisa menjaga kepercayaan gue bukan malah mengkhianatinya.

Menikahi pria yang bukan gila hormat dan juga menghormati wanitanya itu pun sangat penting bagi gue. Karena kalau dia menghormati wanitanya, menyakiti pun gak akan mau. Mengutip dari greatmind dan penulisnya adalah my fav person Marissa Anita "memilih pasangan hidup yang benar semakin mendekatkan diri untuk melestarikan kesehatan mental anda".
Kebayang gak sih, hidup sama orang yang justru bikin kita sakit mental. Kalau gue sih gak bisa, karena menjalani hidup sendiri aja udah bisa mental kepental ancur-ancuran, apalagi kalau hidup dengan orang yang salah. Walaupun kalau kata emak gue sih, gak ada manusia yang sempurna dan cocok 100%, I agree with her. Tapi perlu memilih pasangan yang setidaknya membuat mental kita gak terlalu "sakit", biaya psikiater mahal gaes. Tapi lebih penting untuk "love yourself" dulu, karena pondasi diri harus lebih kuat sebelum menikah, gue berkali kali bilang ke diri sendiri untuk jadi lebih kuat tapi bukan berarti gak nangis, dan harus lebih sayang dan merawat diri biar bisa merawat cinta dan orang yang gue cintai.

Dan beberapa hari ini dibikin nangis dan jatuh cinta sama sosok anak kecil namanya King faaz. Kalimatnya dengan bapak sambunya bikin hati nyess. Kalimatnya gini
Faaz Dad : jadi laki-laki harus..
Faaz : kuat
Faaz Dad : laki laki yang kuat?
Faaz : bukan seenaknya nyakitin hati orang apalagi hati perempuan
Faaz Dad : terutama?
Faaz : mami dan adik eijas
Faaz Dad : sebelum abang bisa jagain mereka
Faaz : abang harus kuat fisik dan rohaninya

Jujur, setelah liat video anak 10 tahun ngomong gitu air mata langsung jatuh, kok rasanya nyesek banget?. Seketika pikiran gue adalah I really want my son thinking like that too. Pengen punya anak yang kayak gitu juga. Memandang bahwa menjadi laki-laki sejati dan kuat bukan hanya terlihat di luar tapi di dalam yaitu pondasi dirinya harus kuat, yang juga peduli sama diri sendiri dan kuat hubungannya sama Tuhannya. Karena kalau Tuhan aja ditinggalin, apalagi kita yang notabenenya bukan siapa-siapa. Kalau sama Tuhan aja gak takut, apalagi sama manusia dan bagaimana dia treat orang sekitarnya. Walaupun dekat sama Tuhan bukan berarti menjadikan kita manusia sempurna dan bersih tanpa dosa, tapi at least yang selalu bisa memperbaiki hubungannya sama Tuhan, dirinya dan sekitarnya. 

Melihat faaz, gue pun takjub sama sesosok sonny sang bapak sambung. Apalagi track history keluarga mereka, dimana sang ibu disakiti sama bapak kandung faaz. Luka dan trauma itu gak gampang buat hilang, tapi faaz hadir dan diajarkan bahwa jangan sampai air mata itu keluar dari mata perempuan. Jangan sampai faaz bisa jadi kayak bapak kandungnya yang justru gak cuma bikin air mata turun tapi ngasih luka dan trauma ke perempuan. Dan yang ngajarin itu semua adalah sonny, sang bapak sambung. Berarti dia punya prinsip untuk memuliakan perempuan dan menghormati perempuan. 

Masalahnya society hanya memaksa laki-laki itu harus kuat buat jadi laki-laki sejati. Jadi Pria yang kuat secara fisik tapi gak bisa melindungi orang sekitarnya dengan baik, jadi pria yang pintar tapi gak bijak dan lebih memilih kalimat tajam untuk berucap kepada orang sekitarnya. Society lebih mengajarkan pria kuat lebih agar terlihat dari luar tapi rapuh di dalam. Akhirnya karena ada kerapuhan di dalam bikin dia ga tau, gak kenal dan ga paham bahwa ada beberapa sikap keluar yang gak baik dan menyakiti dan itu dilakukan tanpa pikir panjang. Gue selalu berpikir bahwa kalau pria bisa sayang ke diri sendiri dulu dia pun bisa sayang ke orang sekutarnya terlebih orang yang dia cintai. 

I believe for this statement "When a man is dealing with low self-esteem, he’ll make mistakes. Big mistakes. So Self-love can show men how to be affectionate to the rest of the world. Promoting self-love in all people creates a positive ricochet of self-esteem, self-forgiveness, emotional communication, generosity and affection"

Pria dengan low self esteem akan merasa hampa dan kosong pada dirinya. Gak cuma pria sih tapi wanita juga. Makanya kenapa mencari kebahagiaan itu bukan dari luar tapi dari dalam. Gue percaya bahwa pria dengan low self esteem akan melakukan kesalahan besar dan sangat fatal. Mereka akan terus mencari penerimaan dan validasi dari orang lain, karena validasi itu gak berasal dari dalam dirinya. Pria dengan low self esteem akan tergila-gila bagaimana dia didambakan oleh banyak orang, bahkan narcistist pun sebenernya punya low self esteem. Jadi dalam otaknya adalah "If other people tell me I’m great, then that must mean I’m great." Pria pria ini akan lebih sering menfokuskan diri keluar, bagaimana dia dipandang orang lain, semua ambisinya lebih untuk orang lain bukan untuk dirinya sendiri. 

Pria yang jaga kesehatan akan berpikir bahwa ketika dia sehat berarti dia bisa hadir untuk melindungi orang yang dia sayang. Maka pondasi yang kuat itu harus diri sendiri, secara fisik, mental dan rohani. Kalau fisik sehat, menjaga secata fisik pun akan mampu. Kalau mental sehat, gak akan mudah menyakiti orang lain. Kalau rohani pun sehat, gak akan mudah tergoyahkan. Apalagi ujian pria itu banyak kan ada harta tahta wanita, yang bisa membawa malapetaka buat hidup mereka sendiri.

Gue selalu belajar juga untuk jadi orang yang baik biar nanti ketika punya anak, gue gak ngasih luka gue ke dia. Itu berarti harus udah selesai dengan diri sendiri, harus udah punya pondasi yang kuat. Dan karena anak gue gabisa memilih dia harus lahir dari keluarga seperti apa, maka gue yang bisa memilih pasangan seperti apa untuk jadi ayah dan panutan yang baik untuk anak gue kelak. Gue gak mau liat anak gue yang melihat ibunya tersakiti karena dapat suami yang salah. Gue juga gak mau dia membenci ayahnya karena kelakuan ayahnya. Gue pun ingin anak gue diajarkan untuk jadi lelaki sejati, lelaki yang kuat yang gak akan pernah dengan sengaja menyakiti hati ibunya, saudara perempuannya dan juga pasangannya. Maka setiap langkah yang dia ambil harus dipikirkan dengan matang agar tidak menyakiti. Karena kalau mengambil langkah tanpa berpikir panjang, maka di otaknya hanya tersimpan rasa aman sementara atas dasar "dia gak tau kok" itu berarti menunda bom meledak, tapi bukan berarti bom ga meledak. Maka lebih baik ga ada bom bukan? Maka pria, jadilah pria sejati yang kuat secara fisik, mental dan rohani.

Gue suka kalimat dari Ali bin Abi Thalib
“Jika seorang wanita menangis karena  seorang pria telah menyakitinya, para malaikat akan mengutuk setiap langkah yang diambil pria itu.” 


Tuesday, 5 April 2022

Emotional Roller Coaster

I am going crazy, I feel lost and broken
Angry and sadness always hit me and of coursr feel lonely
I mean there is question that I always keep asking to my self "why wasn't I enough?"
I know he said that others girls doesn't mean anything, but he interested right? So that's why he always contact them when he feel lost, lonely or burnout
I mean I always there for him, support him no matter what I feel or my condition. But why he didn't see that?
I keep angry think that he is so cruel, and then I cried again and again
But its like chaos, How I can stop about it? That I dont have mean anything for him
I feel like I am victim and hurting so much but the other side I feel like I am witch with heartless. Its like I want stabbed back him too but I cant
I think I really going crazy
I always avoiding the kind of this relationship. I wont make our relationship into toxic. 
I always trying to fix my self, I always want my partner see me for my best side. I really want be best partner, best human being, best spouse of wife and best mother. But he ruined every step that I make with his short relationship.
I really want my relationship to truly work. I keep searching how can I make this happen after infidelity. But how I take care of my relationship while I am still bleeding? 
I really hate this emotional roller coaster
I know people can change of course, and he can be better person more than I know before.
But I just wanna see every move from him even though small things and I want truly trust him by smallest statement and promise from him. But he always trying ask me how far he fight for and not only me.
I am the one who fooled by him and I just do not want to feel the same pain again
How dare him hurting me like this
I mean I am doing my best thing for him, but why I need to feel his bad side? 
Why I dont feel like my relationship never be same now?
I just tired holding on hoping and love

Monday, 4 April 2022

Emotional Murder

I'd be crushed in so many waya and wouldn't know what to do, whi to trust, where to turn 
The person I depended on more than anyone in the world would suddenly be the most distrustful, unsafe person I know
The pain and confusion would debilitate me

The moment we shared together especially all the special moments we once held close crushed in an instant. My entire relationship would feel like a scam, as every happy moment I remember with him would suddenly transform into miserable, painful memories that lost all the meaning they once had.

Lots of pain, and a whole lot more loss of what was and what wasn’t anymore. I know it's really painful but I committed to myself that no matter how bad my relationship got, I would stay faithful.

Having an affair is like commiting emotional murder
It's like being stabbed in the heart and negaive emotion hit you always everytime like anger, sadness, humiliation. When he go over to the greener grass, his own geass will eventually die. I am dying

The betrayal like when he threw our heart out the window on the way to their mistress. Then he come home, on the way home, he picked it up off the street, wiped it off, stuck it in the truck and kept driving. Its like he being okay and everything fine as long as their spouse dont know about their affair.

I really hope that A cheater doesnt always have to be a cheater.

Sunday, 3 April 2022

About forgiveness

Forgiveness is a promise not a feeling. When you forgive other people you're making a ptomise to never use their past sins against them
The reality is today is built on yesterday and tomorrow is built on today. So the things that happened yesterday will impact you today and the things that happened today will ultimately impact your tomorrow
And so forgiveness is something that you have to have order for you to successfully make it into your tomorrow and so the reality is when you have the power forgiveness in your relationship everything can begin to turn around.
But the question becomes if we're gonna really walk through forgiveness some of the things that you've got to ask yourself is what is your own personal history when it comes to forgiveness.

Some question need you answer first :
1. What has been my overall experience with forgiveness ( think about your childhood, think about the environtment that you were raised in, think about what you've seen what you've been exposed to, what has been your overall experience with your forgiveness)

2. Have I been easily forgiven and do I easily forgive ?

3. Have the ones who have hurt me quickly identified their wrongdoing and corrected their behaviour?

4. Have people in my past apologized only to use it as an escape from punishment without changing their behavior?

5. Do I still have some influential individuals in my life who need my forgiveness or that I need to ask their forgiveness?

If you're an individual who's used to holding grudges and being bitter and remaining in resentment and can't seem to forgive. You haven't forgiven your siblings, you haven't forgiven your parent you haven't forgiven your best friend from 15-20 years ago what makes you think that you can easily and quickly forgive your spouse. You have no track record for it.

I think forgiveness is not design to me, it really hard and need time to let all painful memories. How come easily to forgive while people who tore your heart easily doing bad things?

I found statement that there are 4 types of forgiveness that I want to quickly impact for you that will give you some context.
1. The refusal to forgive : this type where'd you know what you hurt me and I want you to feel the pain that you've placed me in and so im going to now give back to what you've given to me. This types mean you're holding on for dear life what that person has done, oftentimes is a form of punishment. But the reality is the pain that you think you're causing that other person you're really causing yourself.

2. Cheat forgiveness : its like if other person talk to me to forgive so I need to forgive, without need tp talk about it, without need to go into the details. So what happens is we suppress the issue & oftentimes people who engage in cheat forgiveness are those indoviduals who suffer the most with issue avoidance and so to avoid the issue lets just put it behind us because we're peacekeepers. We just want to keep the peace and so taling this issue now potentially puts the relationship at risk and because we want the relationship for dear life will suppress the issue and so what happens is we sweep these issues in the carpen and the issues get bigger and bigger till they consume the room but it doesn't resolve the problem. It because the problem actually follow you everywhere you go.

3. Acceptance. This type is powerful because acceptance is what you have to engage in when you dealing with a partner who is unavailabe or unrepentant partner. This types mean when you forgiving someone its for your benefit and for your own healing, sanity. I've got to forgive you for me I've got to focus on my own healing so that I can become the best version of myself. While I pray that you become repentant in the process.

4. Genuine forgiveness : true forgiveness is  a system of accountability where you both are willing to admit what was done wrong and you're working towards the restoration of your relationship and so you're able to have difficult conversations your able to call a spade a spadr and then you're able to ger the help that you need as you both work towards reconciliation. When you do that things begin to go in the right direction.

Friday, 1 April 2022

nightmare

I dont know why tapi setelah berhari-hari tenang, tadi malem mimpi yang kmvret banget
Mimpi dalam mimpi yang bikin hati nyes lagi
Mimpi he text and firtling other girls
Kayak nunjukin he make a promise that he cant keep
And I found other girls firtling him too
Rasanya jengah banget
Bangun tidur jadi emosi
Padahal cuma mimpi
Tapi emosinya masih kebawa
Tiap kali mau percaya, selalu dibuat ragu buat percaya
Takut hancur lagi
Tapi udah terlalu hancur, apa lagi yang mau dibikin hancur ga sih?

Lelah

Aku berusaha menepi ketika lelah
Tapi tangisku selalu pecah
Aku rasa aku baik-baik saja
Tapi kemudian aku sengsara

Build Relationship To Your Parent first

Salah satu temen bilang "aku iri kamu bisa curhat apapun sama ibu kamu bahkan untuk masalah percintaan. Karna aku gabisa".
Yang dia tau cuma permukaan, tapi semuanya butuh proses. Ibu itu tipe yang demanding perfectionist mudah terdistraksi, kurang lebih kayak gue 11 12. Perfectionistnya, OCDnya dan unstable emotional. Bahkan aku pernah ada di titik emosi mulu kalau sama ibu, diem terus di kamar saking marahnya. Karena kemarahan yang gak diluapkan. I mean aku takut jadi anak durhaka kayak malin kundang yg dikutuk jadi batu gitu kalau marah-marah sama ibu. Tp karena marahnya ke dalem jadinya sikapnya juga nunjukin marah juga. Sama aja sebenernya. Karena manusia cuma punya 2 pilihan, bilang atau let it go.

Perempuan di umur kayak gue gini pasti tuntutan akan pernikahan itu lagi tinggi tingginya. I know what that feeling. Gue pernah di posisi itu juga, jadi pengalaman temen gue pernah gue rasakan. Rasanya kesel tiap ibu bahas "anak temen ibu nikah nih di gedung A. Temen ibu pergi bawa cucu". Gue sangat tau dan paham bahwa ibu sangat menginginkan gue punya pacar, menikah dan punya anak. Itu yang bisa membuat ibu bahagia. Tapi gue ga hadir dan bertanggungjawab untuk membahagiakan ibu dengan cara memaksa menikah kan? Jadi dulu gue sering ribut sama ibu dan gak betah di rumah. Hubungan kita sangat ga baik. Sampe ibu di titik lelah kali ya, punya anak yang sibuk di luar, ngegali potensi, sibuk sana sini tapi sabtu masih di rumah aja berteman dengan laptop. Akhirnya ibu cukup solat dan curhat sama Allah buat mendatangkan pria baik ke hidup gue. Gak lama temennya minta buat dikenalin sama keponakannya, yang saat ini pria itu jadi pasangan gue. Tapi di awal pdkt gue ga bilang sama ibu, karna udah pasti bakal banyak tuntutan. Ibu ini tipe demanding banget, termasuk cara berpakaian anaknya. Di first date kalau gue bilamg mau ngedate, pasti diminta buat pake baju yang bagus. Capek intinya. Tapi setelah punya pacar pun buka  berarti hubungan gue dan ibu baik2 aja. Karna hubungan baik itu dibentuk bukan ngalir gitu aja.

Gue merasa my life so messy, tapi ingin gue rapihkan sebelum gue membangun kehidupan kecil gue. Gue mulai memperbaiki hubungan sama ibu dan sekarang hubungan kita baik. Jadi temen curhat dan ibu yang paling tau anaknya lagi kenapa meski tanpa gue cerita.

Semoga hubungan gue dan pasangan gue ini ga bikin ngecewain ibu karena akhirnya ga lanjut, gue berharap dia beneran orang tepat yang didatangkan atas doa ibu. Karena dia baik, baik banget, baik sama keluarga gue. Jadi setiap kali liat kebaikan dis tapi nyakitin gue bikin gue sedih, kok ada manusia kayak gtu karna ingin membuat gue melarikan diri.

Tapi intinya sih, orang tua - anak itu hubungan yang sulit bagi gue jadi paham banget yang dirasakan temen gue. Tapi gue percaya cuma butuh effort lebih dari diri kita untuk bisa ke tahap hubungan yang baik. 
Dan gue percaya, bahwa menyelesaikan diri kita, hubungan kita dengan orang tua itu penting dan harus banget selesai sebelum membangun hubungan dengan pasangan apalagi buat ke jenjang serius. Jangan sampe hubungan ke orang tua gak baik apalagi sampe kawin lari yang gak direstuin.

Takut tapi terlewati

Akhir akhir ini merasa amazed sama diri sendiri dan ini gue sampaikan ke adik dan ibu bahwa "terkadang takut itu cuma sensasi tapi ketika dilewati dan bisa ternyata, memunculkan rasa bangga dan lebih percaya ke diri sendiri. Ternyata diri ini mampu kok"

Beberapa hari yang lalu, dapet informasi dadakan untuk liputan di Solo, which is berangkat pake pesawat dan ini pertama kalinya naik pesawat. Ada perasaan takut terutama pas take off, kebayang aja kalau ternyata amit amit kecelakaan dan tubuh gue gak utuh gak ada jasadnya lagi, dan takut aja ternyata mimpi gue terhenti sampai disini wkwk. Sebelum take off I got panic attach ringan sampai akhirnya aku napas, inget kata dr jiemi "napas itu pertanda hidup kita ada di masa kini", apapun yang terjadi even gue mati ga lama setelah take off, yaudah berarti emang itu jalan gue. Alhasil untuk penerbangan kedua, gue ga setakut itu, take off ga semengerikan itu, Im fine and Im here.

Kedua, gue selalu mengeluhkan ke semua orang bahwa kehidupan percintaan gue tak akan berhasil, gue takut atas ketidaksetiaan pasangan dan gue takut menjalin hubungan serius terutama menikah. I mean kenapa sih harus menikah? Kenapa harus menjalin hubungan yang akhirnya pasti ada yang tersakiti? Dan gue menemukan kekuatan diri gue ketika itu terjadi. Ya memang sakit, orang yang gak punya hati kali yang gak akan sakit galau, marah dan nangis berhari-hari tau kalau dia diselingkuhi. But Im here atas segala luka yang dia torehkan ke gue, gue menjadi gue yang lebih kuat. Kesel yes, marah yes dan ada dorongan mau balas dendam dari dalam, absolutely yes. Tapi kebodohan dia adalah mengabaikan perasaan gue yang tulus sampai rela setia, kesalahan dia adalah berpaling disaat seharusnya dia cuma bisa melihat gue, dan itu akan jadi penyesalan dia seumur hidup. Setidaknya tamparan kejadian ini membuat gue lebih realistis, bahwa sayang gak menjamin seseorang akan stay dan setia, manis manis yang ditunjukan ga menjamin dia ga main belakang, selalu kasih waktu buat lo ga menjamin dia banyak ngasih kebohongan. Awalnya gue merasa gue akan kehilangan diri gue ketika disakitin, gue hancur sehancur hancurnya, but I am not. Sakit hati tapi gue percaya bahwa kalau waktunya nangis dan keadaan gabisa bikin kita tegar yaudah nangis aja. Tapi percaya semua akan bounce back.

Tiap kali ngomongin soal pernikahan gue lari dan jantung gue berdegup kencang, sama pasangan gue pun rasanya pengen kabur aja. Kayak I am not ready for this. Banyak "what if" yang datang yang menyita isi pikiran gue. Bahkan obrolan soal hitung2n pernikahan selalu gue tunda karena gue takut. Gue takut gagal. Tapi bahkan beberapa hari yang lalu gue mengajak pasangan buat nyicil seserahan, meskipun ngomongnya ragu bukan ga berani ngomong sama dia karna takut tanggepannya gak enak. Tapi gue ragu "yakin nih lu siap menghadapi banyak surprise di depan sana? Yakin lu siap hidup sama orang yang pernah menyakiti lu? Yakin lu siap mengabdikan hidup lu buat orang lain ketika selama ini lu selalu hidup atas kemauan diri lu sendiri?". Karena setelah akad, tandanya hidup gue bukan lagi tentang diri gue, dan bisa jadi akan ada rasa sakit yang lebih banyak di depan sana, meskipun ada rasa bahagia. Ketika takut komitmen itu muncul di pria, ini muncul di gue. Tapi im so proud of my self, ambil satu langkah aja udah one step closer to reality. Ternyata gue mampu ya.
Gue pun mampu menghandle semua rasa sakit dan kecewa gue yang dia torehkan. Gue pun mampu belajar tutup pintu atas masa lalu menyakitkan. Meski masih kebawa rasa sakitnya. Tapi setelah dilewati, gue gak mati, gue masih disini dan justru jadi lebih lebih baik dari diri gue yang lama. *peluk

Yo are not God

Lelucon adek biasanya "Ka lu tuh ya misal nih Allah setinggi ini. Lu berusaha ngejar untuk menyamakan posisi lu biar sejajar sama Allah. Capeklaah ka. Lu gak akan bisa. Gak akan mampu bisa mengontrol orang-orang disekeliling lu, gak akan bisa ngatur mau masa depan kayak apa. Jangan menambah beban pikiran lu untuk hal yang gak sanggup untuk lu lakukan"

Tapi berkali kali gue selalu punya ambisi untuk do and control everything dan itu sulit buat diubah. Alhasil bikin capek, jadi buat let it go, biarkan hidup mengalir itu bukan "gue banget". Seandainya gitu ya beneran ada avengers, gue ingin jadi scarlet witch yang bisa kontrol bahkan bisa kontrol pikiran. "Apa yang orang lain sedang pikirkan" itu jadi sesuatu yang mengganggu pikiran gue sendiri, bawaannya kepo dan pengen tau kenapa orang bisa bertindak A kenapa orang bisa bertindak B. Akhirnya karna pikiran gue ini, selalu diledek adek "jangan mau menyamakan posisi lu sama Allah ka..bagaimanapun pinternya manusia gakan bisa menyamakan kedudukan lu dan Tuhan lu"

Sepertinya aku hanya perlu hidup slow, meski susah